KORUPSI

KORUPSI

Oleh : Admin

Rasulullah SAW telah memperingatkan adanya godaan duniawi yang dapat membuat umat manusia terlena, sebagaimana sabda beliau : “Inna likulli ummatin fitnah, wa inna fitnata ummatil al-maal”, artinya : “Sesungguhnya setiap umat itu ada ujiannya, dan ujian bagi umatku adalah ‘maal’, yaitu harta !!”. Di dalam Islam, terdapat ancaman dan peringatan terhadap korupsi (ghulul), misalnya QS.Ali Imran 161 : “Orang yang melakukan ghulul (mengkorup harta negara), Allah pasti melahirkan ghulul itu (harta korupsinya) di hari kiamat”. Lalu dijelaskan pula oleh Rasulullah SAW : “Jika yang dikorupsinya kambing, ia akan mengembek. Jika berupa sapi, ia akan mengeluh dan menanduk koruptornya”. Terhadap pemimpin yang korup, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang keras : “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu akan ditanya mengenai rakyat yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari – Muslim). Kemudian hadits yang lain : “Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ia mati, sedang ia masih (dalam keadaan) menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya surga”. (HR. Bukhari – Muslim). Dalam khutbah terakhir Rasulullah SAW yang sangat terkenal pada saat haji wada’ : “Wahai kaumku ! Dengarlah perkataanku dan camkan dalam hatimu, bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi setiap Muslim lainnya. Dan sekarang, kamu sekalian terikat dalam satu ikatan persaudaraan. Oleh karena itu, tidak diperkenankan bagi siapapun diantara kamu untuk memperkaya dirinya dengan milik saudaramu yang lain, kecuali kalau saudaramu itu memberikan kepadamu dengan ikhlas (rela)”.

 

Kisah pemberantasan korupsi yang cukup terkenal dilakukan oleh Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

 

Kepada para pembesar negara, sipil atau militer, yang kaya dan penuh kemewahan, akan ditanya dengan sorot mata penuh wibawa : “Anna laka hadza ?” (Darimana kau peroleh hartamu ini ?). Lalu ia segera memerintahkan pemeriksa untuk meneliti berapa jumlah kekayaan si pejabat sebelum dan sesudah ia menduduki sebuah jabatan. Jika ada kelebihan, dari mana ia mendapatkannya. 

Jika ternyata diketahui bahwa pertambahan kekayaan si pejabat diperoleh bukan dari hasil gaji resmi negara, maka disitalah harta itu dan dimasukkan ke kas negara (baitul maal), harta yang oleh khalifah dianggap bukan hak milik pribadi, dinyatakan sebagai milik umat dan hak milik Allah. Sebab kekayaan demikian bukan mustahil berasal dari hadiah dan sogok kepada pejabat itu untuk mendapatkan kemudahan bagi si penyogok, atau berasal dari pemerasan secara halus atas rakyat atau juga pengaruh kekuasaannya. 

Demikianlah, Baitul Maal (BM) bertambah jumlahnya karena hasil sitaan dari berbagai pejabat korup, mulai dari gubernur, komandan pasukan, pemungut zakat bahkan dari kalangan keluarga Khalifah sendiri. Di suatu malam, isteri khalifah memakai seuntai kalung mutiara yang sangat indah. Demi khalifah mengetahui isterinya mengenakan kalung tersebut, lalu ia bertanya : “Dari mana kau dapatkan kalung ini ?”. Dengan rasa senang si isteri menceritakan bahwa kalung itu hadiah dari Kaisar Romawi Timur. Mendengar cerita itu Khalifah menyuruh isterinya melepas kalung tersebut untuk diserahkan ke Baitul Maal melalui Perbendaharaan Negara.

Satu Tanggapan

  1. Tegaknya hukum yg bisa menghapus ‘budaya’ korupsi di NKRI …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: