Taushiyah Tahun 2008

TAUSHIYAH  TAHUN 2008

(Khusus untuk warga muslim Persero PT Brantas Abipraya)

Assalaamu’alaikum wa rahamatullaahi wa barakaatuh

Tahun 2007 Insya Allah akan bisa kita lalui dengan selamat, mudah-mudahan sasaran Perusahaan akan tercapai sehingga kita bisa menghadapi Tahun 2008 dengan lebih percaya diri. Namun demikian kita tetap perlu waspada dan tetap bekerja keras agar hasil usaha Tahun 2008 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Allah SWT berfirman : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran”. (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Allah SWT berfirman : “Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan menggunakan kebijaksanaan dan nasehat yang baik”. (QS An-Nahl: 125)

Allah SWT berfirman : ” Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS Al-Maaidah : 2)

Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya : “Saya membaiat kepada Rasulullah SAW untuk mendirikan shalat, memberikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam”. (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Musa Al Asy’ari r.a.,  Rasulullah SAW bersabda : “Hendaklah ia mengamalkan kebaikan dan menahan dari keburukan, maka sesungguhnya hal itu menjadi sedekah baginya”. (HR. Bukhari)

Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an maupun Hadits yang menguraikan pentingnya memberikan nasehat (taushiyah) yang baik kepada sesama muslim. Wajib bagi kaum muslimin saling memberi nasehat dan berwasiat tentang kebenaran, tolong menolong dalam kebaikan, dan amar ma’ruf nahi mungkar sebelum terjadinya hukuman dari Allah. Ada hadits shahih dari Rasulullah SAW : “Sesungguhnya manusia, apabila melihat kemungkaran dan tidak berupaya untuk merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menyegerakan hukuman bagi mereka secara umum”.

NASEHAT  1 :  Sabar

Manusia terbagi menjadi empat tingkatan dalam menghadapi musibah :

a.   Marah-marah

      – Merasa jengkel kepada Allah SWT karena takdir buruk menimpanya, ini haram hukumnya dan terkadang bisa menjerumuskan kepada kekufuran.

      –  Meminta celaka dan binasa sekalian karena tidak tahan menghadapi musibah.

      – Menyakiti anggota tubuh, misal membentur-benturkan kepala, memukul-mukul anggota tubuhnya.

b.   Bersabar

      Sabar itu pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu. Orang yang sabar akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa musibah itu adalah sesuatu hal yang tidak disukainya. Ini hukumnya wajib karena Allah SWT memerintahkan untuk bersabar.

c.   Ridha

      Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya.

d.   Bersyukur

      Seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Mereka berpandangan bahwa musibah diciptakan Allah SWT justru untuk meningkatkan derajad manusia dan menambah ketaqwaan kepada-Nya.

Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa : “Kesabaran merupakan separuh iman”. Nash  tersebut mengisyaratkan begitu tingginya nilai kesabaran di dalam agama Islam. Hal ini juga ditunjukkan dengan begitu banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang memuat keutamaan sabar.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nahl 110)

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar  dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar “. (QS Al Baqarah 153)

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu sesuatu cobaan berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-2 an. Maka sampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. (QS Al Baqarah 155-156)

Dalam kaitannya dengan habluminallah, sabar terdiri dari 3 (tiga) macam :

a.   Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT

b.   Sabar dalam menjauhi segala hal yang diharamkan

c.   Sabar terhadap takdir atau ketentuan Allah SWT yang menyakitkan

 

NASEHAT 2 :  Jangan suka marah

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW : “Berilah wasiat padaku”. Beliau SAW bersabda : “Jangan marah”, tapi lelaki itu berkata lagi : “Orang itu mengutang berkali-kali”, tetapi beliau SAW tetap bersabda : “Janganlah marah.”. Hal ini diulangi berkali-kali, tetapi jawaban Rasulullah SAW tetap saja. (HR Bukhari).

Kita dilarang marah apabila berhubungan dengan sesuatu yang hanya mengenai hak diri kita sendiri atau hawa nafsu, kita boleh marah kalau kehormatan agama diganggu gugat. Kalau kita ingat-ingat, bahwa timbulnya semua kerusakan di dunia ini sebagian besar ialah karena manusia ini tidak dapat mengekang hawa nafsu dan syahwatnya, tidak suka menahan marah, sehingga menimbulkan darah mendidih dan akhirnya ingin menghantam dan membalas dendam.

Marah juga dapat dianggap sebagai bentuk menganiaya diri sendiri,  itu dilarang oleh Islam. Allah SWT berfirman : “(Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu”. (QS Az Zukhruf : 39). Dalam QS An Nisaa’ : 97, Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : …… dst.  Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Dalam QS Al Anbiyaa’ : 46, Allah SWT berfirman : ” Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata : “Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri”.

NASEHAT 3 :  Jangan korupsi

Korupsi adalah mengambil sesuatu dari pihak/orang lain melebihi proporsi yang seharusnya. Korupsi dapat juga dikategorikan sebagai perbuatan yang khianat karena melanggar amanah yang diberikan kepadanya. Sedangkan akibat dari korupsi dapat bermuara kepada berkurangnya hak pihak/orang lain.

Allah SWT berfirman : “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS Al Baqarah : 188)

Allah SWT berfirman : ” …….. barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya”. (QS Ali ‘Imran : 161). Ayat ini turun pada masa Perang Badr, sebagai larangan memperebutkan harta rampasan perang sebelum dibagikan oleh panglima/pimpinan perang.

Dari Abu Umamah, yaitu lyas bin Tsa’labah al-Haritsi ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengambil haknya seseorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan syurga atasnya”. Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya : “Apakah demikian itu berlaku pula, sekalipun sesuatu benda yang remeh, ya Rasulullah ?”. Beliau SAW menjawab : “Sekalipun bendanya itu berupa setangkai kayu penggosok gigi”. (HR Muslim)

Dari hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda : “Kembalikanlah jarum dan benang jahit (yang engkau ambil). Barangsiapa mengambilnya tanpa hak, pasti akan dipaksa mengembalikannya pada hari kiamat”.

Dari Adi bin Amirah ra, katanya : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang kita pergunakan di antara engkau semua sebagai petugas atas sesuatu pekerjaan, kemudian menyembunyikan dari kita sebuah jarum, apalagi yang lebih besar dari jarum itu, maka hal itu adalah sebagai pengkhianatan yang akan dibawanya sendiri pada hari kiamat”. (HR Muslim). Makna kalimat “petugas atas sesuatu pekerjaan” bisa pejabat atau pegawai biasa.

Bagaimana dengan memakan harta hasil korupsi ?. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah ra, Rasulullah bersabda : “Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari sesuatu yang haram. Nerakalah yang lebih utama buatnya”. (HR Ibnu Hibban)

Masih banyak sekali ayat-ayat Qur’an dan hadits yang membahas mengenai korupsi, yang semuanya “mengancam” pelaku korupsi dengan dosa yang besar sekalipun yang diambil hanya sebuah jarum saja.

NASEHAT 4 : Berlakulah adil

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah itu memerintahkan keadilan, berbuat baik dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat,” sampai habisnya ayat. (QS An-Nahl 90)

Allah SWT berfirman : “Dan berlaku-adillah engkau semua, sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Hujurat 9)

Allah SWT berfirman : “……. , sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”. (Qs Al Maaidah : 42)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, katanya : “Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang berlaku adil itu di sisi Allah akan menempati beberapa mimbar dari cahaya. Mereka itu ialah orang-orang yang adil dalam menerapkan hukum, juga terhadap keluarga dan perihal apapun yang mereka diberi kekuasaan untuk mengaturnya”. (HR Muslim)

Dari ‘Iyadh bin Himar ra, katanya : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Ahli syurga itu ada tiga macam, yaitu orang yang mempunyai kekuasaan pemerintahan yang berlaku adil dan dikaruniai taufik -yakni dikaruniai pertolongan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, juga seorang yang berhati kasih sayang, lemah-lembut kepada semua kerabatnya dan juga kepada sesama Muslimnya, dan pula seorang yang menahan diri dari meminta-minta dan berusaha untuk tidak meminta-minta itu, sedangkan ia mempunyai keluarga banyak – dan dalam keadaan miskin”. (HR Muslim)

Perilaku adil dapat diterapkan dimana saja kita berada : keluarga, masyarakat, tempat kerja, di tempat umum, perdagangan/usaha dan sebagainya.

Bagi seorang pemimpin yang ingin dicintai rakyatnya, pastilah dia harus dapat bertindak adil dalam semua aspek kehidupan. Do’a seorang pemimpin yang adil dan dicintai rakyatnya adalah termasuk do’a yang akan diijabah oleh Allah SWT. Insya Allah.

NASEHAT 5 :   Bekerja keras

Bekerja merupakan salah satu bentuk dari ibadah, ada banyak hujjah yang menjelaskannya :

Allah SWT berfirman : ” Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS Ar Ra’d : 11)

Allah SWT berfirman : Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu,” (QS Az Zumar : 39)

Allah SWT berfirman : “Maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah”. (QS Al-Jum’ah : 10)

Allah SWT berfirman : “Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan.Tetapi sedikit sekali kamu berterima kasih”. (QS Al-A’raf : 10).

Dalam sebuah hadits dhoif, Rasulullah SAW bersabda : “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok”. (HR. Baihaqi)

Bekerja mencari rezeki untuk memberi nafkah keluarga bahkan digolongkan beramal di jalan Allah (Fi Sabilillah). Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan”. (HR. Thabrani).

Rasulullah SAW pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?”. Beliau menjawab, “Pekerjaan terbaik adalah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik”. (HR Ahmad, Baihaqi, dan lain-lain).

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mati sebelum berjuang dan tidak ada niat berjuang dalam hatinya, maka itu mati di salah satu cabang nifaq”. (HR Muslim dan Abu Dawud)

Dari sejumlah nash di atas, maka dapat disimpulkan, Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja. Itulah sebabnya, dalam Islam bekerja termasuk ibadah karena bekerja termasuk kewajiban agama. Islam tidak menginginkan umatnya hanya melakukan ibadah ritual (hablum minallah), tetapi menginginkan umatnya juga memperhatikan urusan kebutuhan duniawinya sendiri (pangan, sandang, dan papan), jangan sampai menjadi pengangguran, peminta-minta, atau menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidupnya kepada orang lain.

Umat Islam diharuskan :

a.   Bekerja dengan sebaik-baiknya

      Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seorang pekerja jika ia berbuat sebaik-baiknya”. (HR. Ahmad)

b.   Bekerja keras atau rajin

      Rasulullah SAW bersabda : “Siapa bekerja keras hingga lelah dari kerjanya, maka ia terampuni (dosanya) karenanya”. (Al-Hadis)

      Rasulullah SAW bersabda : “Berpagi-pagilah dalam mencari rezeki dan kebutuhan hidup. Sesungguhnya pagi-pagi itu mengandung berkah dan keberuntungan”. (HR. Ibnu Adi dari Aisyah)

c.   Menekankan pentingnya kualitas kerja atau mutu produk

      Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah meningkatkan kualitasnya”. (Al-Hadis)

d.   Menjaga harga diri serta bekerja sesuai aturan yang ada

      Rasulullah bersabda : “Carilah kebutuhan hidup dengan senantiasa menjaga harga diri. Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan”. (HR. Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri). Menjaga harga diri bisa berarti tidak melanggar aturan, tidak melakukan perbuatan yang membawa aib pada diri sendiri, namun sebaliknya, berusaha maksimal mencapai prestasi dan prestise. Pencuri, perampok, koruptor, pemeras, dan semacamnya, tentu termasuk “tidak menjaga harga diri dalam mencari kebutuhan hidup” dan itu dilarang keras oleh Islam. Yang dimaksud “segala persoalan berjalan menurut aturan” artinya mematuhi tata tertib perusahaan atau bekerja sesuai prosedur yang berlaku (tidak boleh menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan).

Karena bekerja dalam Islam termasuk ibadah, maka mulailah setiap pekerjaan dengan basmalah, sebagai tanda mohon perkenan, dan pertolongan Allah dalam kelancaran bekerja, dan akhiri dengan hamdalah sebagai tanda syukur kepada-Nya. Bekerja tentu saja mendatangkan uang atau harta. Maka, gunakanlah harta itu di jalan Allah, hanya untuk hal-hal yang diridhai-Nya, menafkahi diri dan keluarga, membayar zakatnya, menyedekahkannya untuk kaum dhuafa, serta menginfakkannya untuk kepentingan agama dan umat Islam. Di akhirat nanti, soal harta, Allah akan meminta pertanggungjawaban kita dari dua hal : asal harta itu atau cara memperolehnya dan penggunaannya.

NASEHAT 6 :   Berdo’a

Pengertian berdo’a adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT, tetapi bukan berarti hanya orang yang terkena musibah saja yang layak memanjatkan do’a. Sebagai seorang Muslim kita layak berdo’a walaupun kita dalam keadaan sehat. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdo’a kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang”.(H.R. Al Hakim).

Berdo’a adalah ibadah yang khas, menghubungkan hati dan pikiran manusia dengan Tuhannya, yang mungkin dilakukan di awal, sewaktu atau sesudah suatu keinginan ataupun usaha dilakukan. Rasulullah SAW pernah mengatakan : “Do’a itu otaknya ibadah”. (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah)

Allah SWT berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS Al Mu’min : 60)

Allah SWT berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS Al Baqarah : 186)

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang tidak berdo’a Allah maka Allah akan murka kepadanya”. (HR Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda : “Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta”. (HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim)

Rasulullah SAW bersabda : “Do’a itu senjata orang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi”. (HR Hakim dan Abu Ya’la)

Rasulullah SAW bersabda : “Inginkah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan rezeki bagi kalian ?. Maka berdo’alah kalian kepada Allah di waktu malam dan di waktu siang. Karena sesungguhnya do’a itu adalah senjatanya orang mu’min”. (HR. Abu Ya’la)

Do’a harus dilakukan menurut ajaran Sunnah Rasulullah SAW, baik yang menyangkut tata cara, waktu yang paling baik, tempat yang baik, bacaan dan sebagainya.

NASEHAT  7 : Bersyukur

Al Quran mengajarkan kepada kita semua untuk bersyukur, baik dalam kondisi suka atau duka. Kesuksesan dan kebahagiaan dapat dilestarikan apabila yang bersangkutan pandai mensyukurinya, namun sebaliknya akan berubah menjadi siksaan dan penderitaan apabila tidak pandai mensyukurinya. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7). Dalam QS Luqman : 12, Allah SWT berfirman : “Bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Terhadap penderitaan dan kesulitan yang menimpa, Allah SWT menjanjikan pasti akan berakhir, sebagaimana firman-Nya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (QS Alam Nashrah : 5 )

NASEHAT 8 : Kerjakan amalan sunnah sesuai kemampuan

Banyak sekali amalan sunnah yang telah dicontohkan Rasulullah kepada kita. Misalnya dalam hal shalat, lakukanlah shalat sunnah rawatib (qabliyah maupun ba’diyah) karena dapat menyempurnakan shalat wajib (bahkan shalat qabliyah shubuh lebih baik baik dari dunia seisinya, kata Rasulullah), shalat Dhuha’, shalat Tahajjud dan sebagainya.

 

YAA-AYYUHAL LADZIINA AAMANUT TAQUL LAAHA HAQQA TUQAATIHII WA LAA TAMUUTUNNA ILLAA WA ANTUM MUSLIMUUN

 

Wassalaamu’alaikum wa rahamatullaahi wa barakaatuh

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: