Tiga Kelompok Manusia

Hanya orang-orang yang terpilihlah yang mendapat ‘warisan’ kitab suci. Firman Allah SWT, ”Kemudian Kami wariskan kitab suci kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Maka, di antara mereka ada yang zalim linafsih, ada pula yang muqtashid, dan ada juga yang sabiq bil khairat dengan izin Allah (bi idznillah), dan yang demikian itulah sebenarnya keutamaan yang besar.” (Al-Fathir: 32).

Setelah diturunkan kitab suci, umat pilihan itu terbagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang menganiaya diri mereka sendiri (zalim linafsih). Kedua, yang berada di tengah-tengah (muqtashid). Ketiga, mereka yang selalu mengejar kebaikan (sabiq bil khairat).

Imam Abu Qasim Zamakhsyari, ahli tafsir dan ulama besar abad pertengahan, memaknai zalim linafsih adalah orang yang membaca Alquran, mengerti, dan memahami kandungan maknanya, tetapi amaliah sehari-harinya tidak Qurani. Lalu, muqtashid adalah orang yang sedikit lebih mulia dari itu, yakni ia membaca dan mengerti Alquran, dan ia juga mengamalkan Alquran, namun di sisi lain ia masih aktif juga melakukan perbuatan yang dilarang Alquran. Adapun sabiq bil khairat adalah orang yang membaca dan mengerti Alquran, ia juga mengamalkan ajaran Alquran, dan berbarengan dengan itu ia selalu berupaya mencapai keutamaan-keutamaan (fadlilah) dari amaliah-amaliahnya tersebut. Misalnya, ia menambahnya dengan kekhusyukan, keikhlasan, kesabaran, dan seterusnya.

Adapun Syekh Hasan al-Basyri, seorang teolog Suni, memaknai tiga kategori dalam al-Fathir 32 tersebut secara fundamental dan lebih menekankan hubungannya dengan kualitas keagamaan secara umum. Menurutnya, zalim linafsih adalah seorang mukmin yang secara sadar mengabaikan kewajiban-kewajiban agamanya, muqtashid adalah orang yang sebatas menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya, sedangkan sabiq bilkhairat adalah orang yang menambahkan pula amalan-amalan yang sunah (fadlilah) selain amal-amal wajibnya.

Yang menjadi bahasan di sini bukan bagaimana memberi ‘penghakiman’ pada dua posisi yang pertama dan kedua, ataupun pengagungan pada posisi yang ketiga (sabiq bil khairat). Yang terpenting adalah bagaimana kita selalu merefleksi diri demi peningkatan pada tahapan yang lebih baik, untuk kemudian mempertahankan dan terus memupuk kualitasnya, sesuai tantangan hidup kita masing-masing. Itulah satu-satunya jalan untuk menjadi orang-orang yang beruntung. Yakni, sebagaimana disabdakan Nabi, ”Yang amalnya hari ini lebih baik dari kemarin, dan esoknya lebih baik dari hari ini.”

Hidup ini adalah proses, dan hati (qalb) manusia selalu berubah-ubah (munqalib). Hari ini kita cenderung pada keburukan (misalnya pada posisi zalim linafsih), belum tentu esok atau lusa kita tidak mampu berpaling pada kemuliaan (misalnya meningkat pada posisi muqtashid, atau bahkan sabiq bil khairat) dengan izin Allah. Atau sebaliknya, derajat kemuliaan yang kita sandang hari ini, tidak mustahil esok atau lusa tiba-tiba runtuh tanpa bekas karena ketidakmampuan kita menjaga dan memupuknya dengan baik, karena kelemahan kita dalam membendung desakan setan dan hawa nafsu.

Wallahu a’lam bish-showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: