Bid’ah dan Pengertiannya

Sabda Rasulullah s.a.w yang sering diulang-ulang dalam khutbah Jum’atnya : “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w, seburuk-buruk perkara (di dalam agama) adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan (tempatnya) di neraka.” (HR Muslim, dengan isnad shahih)

 Pengertian Bid’ah

Bid’ah secara etimologis berasal dari sebuah kata yang mempunya arti “membuat sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya“. Misalnya : Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, dan itu tidak ada contoh sebelumnya. Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang pertama kali, itu juga tidak ada contoh sebelumnya.

Ibtida’ (membuat sesuatu yang baru) ada 2 macam :

1. Ibtida’ dalam hal-hal kebiasaan (atau urusan keduniaan), seperti penemuan-penemuan dalam bidang teknologi modern. Hal ini boleh-boleh saja, karena hukum asal dalam adat (kebiasaan) adalah mubah (boleh).

2. Ibtida’ dalam masalah agama, dan hal ini haram hukumnya. Karena hukum asal dalam hal keagamaan adalah tauqif (terbatas pada nash wahyu). Hal ini berdasarkan hadits-hadits sebagai berikut :

Rasulullah s.a.w bersabda : “Barangsiapa yang membuat (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kita ini, yang bukan darinya (Al Qur’an dan Hadits) maka ia tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan : “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya (dasarnya dalam) urusan (agama) kita, maka dia tertolak.” (HR Muslim)

 

Macam-Macam Bid’ah

Bid’ah dalam masalah agama ada 2 macam :

1. Bid’ah qauliyah i’tiqadiyah (bid’ah yang bersifat pemikiran dan aqidah), seperti pemikiran sesat kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah serta seluruh kelompok sesat lainnya dengan keyakinan-keyakinan mereka.

2. Bid’ah dalam masalah ibadah, seperti beribadah kepada Allah S.W.T dengan bentuk ibadah yang tidak diajarkan. Bid’ah seperti ini banyak jenisnya :

a. Bid’ah yang terjadi pada asal usul ibadah. Misalnya, membuat ibadah yang tidak ada asal usulnya dalam syari’at, seperti membuat shalat atau puasa yang tidak disyari’atkan, baik di dalam Al Qur’an atau Hadits. Misalnya membuat perayaan-perayaan keagamaan yang tidak ada dasarnya. Para ulama salaf memasukkan perayaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w ke dalam jenis bid’ah ini.

b. Bid’ah berupa penambahan terhadap ibadah yang disyari’atkan. Misalnya menambah raka’at shalat Dhuhur atau Ashar menjadi 5 raka’at.

c. Bid’ah yang terjadi pada cara pelaksanaan ibadah yang disyari’atkan, misalnya melaksanakan ibadah tersebut yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan. Termasuk dalam jenis ini, menurut ulama salaf, adalah dzikir yang dilakukan secara bersamaan dengan suara keras (dzikir berjamaah).

d. Bid’ah berupa pengkhususan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah yang disyari’atkan, sementara syari’at Islam tidak mengkhususkan waktu tersebut. Seperti pengkhususan hari Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) untuk berpuasa dan shalat malam.

 

Hukum Bid’ah Dalam Agama

Setiap bid’ah dalam agama adalah sesat berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w,

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, (sebab) sesungguhnya setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (Musnad Ahmad 4/126, HR Abu Daud no.4607, HR Tirmidzi no.2676, HR Ibni Majah no.42 dan Shahih al-Jami’ no 2546)

Dalam riwayat lain disebutkan,

Barangsiapa yang membuat dalam urusan (agama) kita sesuatu yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak.” (HR Bukhari no.2697 dan HR Muslim no.1718)

Dalam sebuah riwayat lain rasulullah s.a.w bersabda :

Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya (dasarnya dalam) urusan (agama) kita, maka dia tertolak.” (HR Muslim no.18) 

 

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam hal agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Artinya, bid’ah dalam ibadah dan i’tiqad (keyakinan) hukumnya haram, hanya saja keharaman tersebut bobotnya berbeda sesuai dengan jenis bid’ahnya.

 

Adakah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk) ?

Membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah berarti telah menyelisihi sabda Rasulullah s.a.w : “Sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Sebab, beliau telah menetapkan hukum bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, sementara dia menyatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah hasanah (baik). Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Syarah al-Arbain berkata : “Sabda Nabi s.a.w ‘kullu bid’atin dhalaalah’ termasuk kalimat pendek yang sangat padat makna, tidak ada sesuatu apapun yang keluar darinya, dan hadits ini merupakan salah satu landasan agung dalam agama. Ini hampir serupa dengan hadits : Barangsiapa yang membuat (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kita ini, yang bukan darinya (Al Qur’an dan Hadits) maka ia tertolak.

Maka setiap orang yang membuat sesuatu (dari dirinya) lalu menisbatkannya pada agama, padahal tidak ada suatu dasarpun dalam agama yang bisa dijadikan rujukan dalam hal tersebut maka sesuatu itu adalah kesesatan, sedangkan agama adalah suci dari kesesatan itu. Baik hal tersebut berkaitan dengan masalah aqidah, amalan maupun perkataan yang zhahir maupun batin.” Demikian penjelasan lengkap beliau.

Tidak ada dalil yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah kecuali perkataan Umar bin Khattab r.a tentang shalat tarawih berjama’ah, yaitu : “Ini adalah sebaik-baik bid’ah“. Yang dimaksud bid’ah di sini adalah bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian agama. Rasulullah s.a.w pernah melakukan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat walaupun hanya 3 malam saja. Kemudian Rasulullah s.a.w tidak melanjutkannya lagi bersama mereka karena takut ini menjadi kewajiban. Selanjutnya, para sahabat melakukan shalat tarawih sendiri-sendiri tetapi dalam kelompok kecil-kecil semasa Rasulullah s.a.w masih hidup hingga beliau wafat. Akhirnya Umar bin Khattab mengumpulkan mereka kembali dengan satu imam, seperti halnya yang telah pernah mereka lakukan bersama Rasulullah s.a.w. 

Sedangkan masalah pengumpulan mushaf Al Qur’an dalam satu kitab mempunyai dasar dalam agama karena Rasulullah s.a.w pernah memerintahkannya. hanya saja tulisan-tulisan tersebut terpencar-pencar , lalu para sahabat mengumpulkannya dalam satu mushaf agar bisa terjaga.

Wallahu a’lam bish-shawab

 

Rujukan :

1. Ensiklopedi Bid’ah, oleh Hammud bin Abdullah al-Mathar, Penerbit Darul Haq.

2. Kumpulan fatwa : Syaikh Abdul Azis bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7 Tanggapan

  1. assalamu’alaykum, ustadz…

    saya mau nanya, nich… di sini di tulis :
    “Sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat”

    tentunya tulisan tsb. dari dalil : kullu bid’atin dhalaalah…

    Dari pemahaman bhs Arab, apakah kata KULLU memang selalu artinya SEMUA/SETIAP? tdk boleh ada pengkhususan…? bagaimana dengan ayat :

    “wa ja’alnaa minal maa-i KULLA syay-in chayyi”
    (QS al-Anbiyaa’ [21]:30)

    apakah tafsirannya adalah “SETIAP sesuatu yang hidup diciptakan dari air”? dan tidak boleh ada pengkhususan?

    BAGAIMANA DENGAN MALAIKAT & JIN…? mohon pencerahannya…
    terima kasih saya haturkan…

    wassalamu’alaykum…

  2. assalamu’alaykum, ustadz…

    saya mau nanya lagi… sebagian kita shalat TARAWIH 8 rakaat, lalu ada CERAMAH AGAMA…

    Menurut Ustadz, CERAMAH AGAMA SETELAH TARAWIH 8 RAKAAT bid’ah/tidak…? Apakah Rasulullah atau salafush shalih pernah melakukannya…? mohon pencerahannya…

    terima kasih saya haturkan…

    wassalamu’alaykum…

  3. Ass wr wb
    Sepengetahuan saya, mengadakan ceramah agama setelah shalat tarawih bukan termasuk bid’ah karena ini bagian dari pada da’wah yang bisa dilakukan ketika lapang maupun ketika kita sedang ditimpa kesusahan.
    Yang termasuk bid’ah jika dikaitkan dengan shalat tarawih diantaranya :
    1. Cepatnya gerakan shalat tarawih, kadang-kadang ada shalat tarawih 23 raka’at tetapi selesainya sama dengan yang 11 raka’at.
    2. Membatasi membaca hanya pada surat-surat tertentu saja. Sebagian imam ada yang membaca Surat Al A’laa atau surat al-Fajr dan seperempat surat Ar-Rahman
    3.Memisahkan antara 2 rakaat dengan membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan membaca shalawat.

    Wallahu a’lam bish-shawab

    Wass wr wb

  4. assalamu’alaykum, saudaraku barjono…

    Dalam masalah hukum Islam, kita JANGAN menggunakan kalimat SEPENGETAHUAN SAYA, tapi harus jelas dalilnya…

    Apa itu bid’ah, definisinya & hukumnya…
    begitu dulu, saudaraku…

    wassalamu’alaykum…

  5. Ass wr wb

    Mohon ma’af kalau kalimat “SEPENGETAHUAN SAYA” agak mengganggu. Kalimat itu diniatkan sebagai ungkapan manusia lemah yg punya banyak keterbatasan ingatan dan pengetahuan. Tentunya, ini tidak bisa langsung dijadikan sebagai hujjah atas masalah itu, kita wajib melakukan check & recheck, sebagaimana yg diperintahkan dalam QS[17.36] “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
    semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. Saya baru ingat dulu sudah pernah buka website ini, mudah-mudahan bisa untuk menambah referensi : http://abusalma.wordpress.com/2007/08/20/bid’ah-bid’ah-puasa-dan-shalat-tarawih-di-bulan-ramadhan/

    Wass wr wb

  6. assalamu’alaykum, saudaraku barjono…

    terima kasih atas info sampean… pertanyaannya:
    kalau bacaan surah saja dipermasalahkan karena dianggap berulang, bukankah CERAMAH AGAMA SETELAH TARAWIH 8 RAKAAT DILAKUKAN SETIAP MALAM…? Jadinya, itu termasuk menambah2 ibadah baru YG TIDAK ADA DALILNYA…

    Alhamdulillah saya sudah mendapatkan jawaban dari Ustadz Pa Ian BAHWA HAL ITU BID’AH, silakan bukan di :
    http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/2006/11/19/ini-bidah-atau-bukan/

    wassalamu’alaykum…

  7. Ass wr wb
    Sukron atas info-nya
    Wass wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: