Tafsir Surat Al Fatihah

Oleh : Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M. Ag.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Alhamdulillah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya kepada kita bersama. Kemudian shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kepada keluarga, sahabat-sahabat serta siapa saja yang mengikuti sunnah beliau sampai hari akhir nanti.

Alhamdulillah kita bisa bertemu kembali dalam pertemuan kajian tafsir yang kedua. Saya mencoba untuk komitmen dengan janji walaupun kemaren Pimpinan Pusat menugaskan pada saya ke Pasaman tapi saya nggak mantap ke sana, ada janji dengan Purworejo. Ingat pak Ratnun kalau saya tiba-tiba harus berangkat ke Pasaman. Apalagi kemaren ada mobil dari Purworejo yang mengantarkan surat ke Yogyakarta, dan Alhamdulillah menurut pengamatan saya pesertanya bertambah dibanding dengan bulan yang lalu, mudah-mudahan istiqamah baik peserta maupun ustadznya. Biasanya salah satu kalah, ada yang pesertanya istiqamah…ustadznya yang nggak istiqamah, ada yang ustadznya istiqamah…pesertanya yang tidak istiqamah, kalau kedua-duanya istiqamah mudah-mudahan berjalan lancar pengajian kita.

Bulan yang lalu kita sudah mulai dengan tafsir Al Fatihah, saya akan lanjutkan Tafsir Al Fatihah ini, dulu kita sudah sampai kepada Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin  bahwa di situ Allah Subhanahu wata’ala selalu kita puji karena Allah adalah Rabbil ‘Alamin. Segala puja dan puji hanya bagi Allah  Rabbil ‘Alamin dalam arti Allah-lah yang menciptakan alam semesta, Allah-lah yang mengelola alam semesta, Allah-lah yang memelihara alam semesta, Allah-lah yang memberikan rizki, Allah-lah yang menguasai, dan Allah-lah yang memiliki alam semesta ini. Tiada satupun selain Allah yang bisa menjadi Rabbil ‘alamin. Jangankan untuk semua fungsi Rabbun itu, untuk satu fungsi saja yaitu Maha Pencipta tidak ada yang bisa. Hanya Allah sajalah Yang Maha Pencipta, sedangkan manusia hanya bisa merubah sesuatu dari yang ada menjadi ada yang lain. Tapi untuk membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada itu hanya otoritas Allah Subhanahu wata’ala saja. Oleh sebab itu … alhamdulillahi… Rabbil ‘alamin.

Dulu kita sudah jelaskan bahwa ada beda antara al-hamdu  dengan as-syukru. Kalau al-hamdu  dengan sendirinya Allah sudah terpuji tapi kalau as-syukru  kita memuji Allah karena ada nikmat yang diberikan. Jadi as-syukru muqabil an-ni’mah. Sedangkan al-hamdu tidak terkait dengan nikmat yang diberikan. Misalkan kita memuji manusia karena dia berani, apakah keberaniannya itu digunakan untuk menolong kita atau tidak, si A tetap terpuji. Tetapi kita berterimakasih pada  A karena ia telah menolong kita. Maka yang pertama disebut dengan  al-hamdu  dan yang kedua  kita gunakan as-syukru.

Setelah itu dijelaskan kembali Ar-rahma… Ar-rahimi  Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Dulu sudah kita jelaskan bahwa beda antara Ar-rahman dengan Ar-rahimi. Yang pertama Ar-rahman bersifat umum, tidak hanya mencakup orang-orang yang beriman semata, tetapi juga orang-orang yang tidak beriman; apakah muslim, kafir, mukmin, musyrik, ta’at, maksiyat semua mendapatkan kasih sayang dari Allah Subhanallahu wata’ala. Sedangkan Ar-rahim hanya khusus diberikan kepada orang-orang yang beriman. Ar-rahman hanya di dunia saja diakhirat tidak ada lagi, sedangkan Ar-rahim terus sampai di akhirat. Artinya Allah tetap memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman sampai di akhirat, tapi tidak lagi memberikan kasih sayangnya kepada orang kafir di akhirat.

Maliki yaumiddin  ini yang akan kita urai sekarang. Maliki yaumiddin;  Malik  secara harfiyah artinya yang memiliki, tapi juga diartikan sebagai raja. Karena pada hakekatnya pemilik itu adalah raja. Dia bisa melakukan apa saja terhadap yang dimilikinya. Kalau dia tidak bisa melakukan apa saja terhadap yang dimilikinya dia bukanlah rajanya, ia bukanlah pemiliknya, tapi ia hanya penggunanya. Oleh sebab ini dengan konsep itu kita tidak punya apa-apa di atas permukaan bumi ini, kita tidak memiliki apapun, semua milik Allah. Lillahi ma fissamawati wa ma fil ardzi,  semua yang ada di langit dan di bumi milik Allah. Lahu ma fissamawati wa ma fil ardhi wa ma bainahuma wa ma tahta tstsara’,  semua yang ada di langit, yang ada di bumi, yang ada di perut bumi, yang ada diantara langit dan bumi semua adalah milik Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Nah! kita hanya diberi izin untuk menggunakannya. Oleh sebab itu kita tidak berkuasa terhadap apa-apa yang tidak diberi izin untuk menggunakannya. Nah! pemilik yang hakiki adalah raja. Oleh sebab itu Allah adalah Rajanya manusia, Rajanya alam semesta. Lahu mulkussamawati wal ardzi, milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Kullillahu ma maalikal mulki tu’til mulka  man tasya’ wa tanziul mulka min man tasya’ wa tu’izzu man tasya’ wa tudzillu man tasya’ biyadikal khairu  innaka ‘ala kulli syai`in qadir. Semua milik Allah. Malikin naas;  Allah adalah raja manusia, tetapi di dunia ini sekalipun Allah itu adalah yang Maha Memiliki, Maha Berkuasa, Raja dari segala macam raja, tapi Allah belum tunjukkan kekuasaannya secara mutlak di dunia ini. Keadilan Allah pun juga belum ditegakkan secara mutlak di dunia ini. Kapan Allah menunjukkan kekuasaanNya secara mutlak? Nanti di akhirat. Makanya tidak semua orang jahat masuk penjara, (nggak semua!). Masih banyak orang jahat yang berkeliaran di luar, bahkan kalau dimasukkan semua nggak cukup penjaranya. Banyak bandit-bandit yang berjaya, banyak koruptor yang dihormati, bahkan dikuburkan kalau sudah meninggal di Taman Makam Pahlawan. Banyak orang-orang jahat yang disanjung-sanjung di muka bumi ini. Harusnya kalau Allah tegakkan keadilannya-semua penjahat di hukum, sebaliknya tidak semua orang baik menikmati kebaikannya. Banyak orang baik-baik hidupnya menderita, banyak orang baik-baik hidupnya dihina oleh penguasa. Ada juga orang baik-baik dimasukkan ke penjara. Harusnya orang yang baik-baik akan menikmati hasil dari kebaikannya. Tetapi Allah belum tegakkan kekuasaanNya  secara mutlak di atas permukaan bumi ini. Hikmahnya memberikan kesempatan kepada manusia  untuk bertaubat, memperbaiki diri dan menguji orang-orang yang beriman, maukah dia istiqamah dengan imannya.  Kalau semua orang yang shalat lima waktu senang hidupnya (kaya!) saya kira tidak ada orang yang berkeberatan untuk shalat. Barang siapa yang shalat lima waktu di masjid di jamin kaya, tidak ada yang berkeberatan. Kalau semua orang yang shalih itu sehat wal ’afiyat tidak sakit-sakit, saya kira semua orang ingin menjadi orang shalih, kalau semua maling ditangkap dan masuk penjara, tidak ada yang mau menjadi maling, ujiannya di situ. Sehingga tatkala ada orang yang bertanya kepada saya “ustadz bagaimana hukumnya berbuat ke dukun, dan dukun itu mengobatinya dengan kemusrikan tetapi sembuh?” Saya katakan “justru ujiannya karena sembuh itu”. Kalau dukunnya musyrik dan tidak sembuh siapa yang mau berobat kepada dia. Justru karena sembuh Allah mengujinya. Kapan Allah menunjukkan kekuasaanNya secara mutlak? Yaumiddin; pada hari agama (hari akhir). Maka dinyatakan di sini “Maaliki yaumiddin! atau ada dua versi bacaan bisa langsung saja tidak pakai alif, (“Maliki yaumiddin”) dan bisa juga ”Maaliki yaumiddin”, dua-duanya artinya sama. Allah-lah Penguasa tunggal, absolut, mutlak pada hari agama ditegakkan secara sempurna, itu hari akhir  (Maaliki yaumiddin).

Iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in, . Biasanya di dalam struktur bahasa Arab fiil, fail, baru maf’ul (kata kerja, pelaku baru obyek penderita). Tapi sekarang di dalam ayat ini maf’ulnya dikedepankan. Kalau di belakang dia menjadi  na’buduka wa nasta’inu bika, lalu karena diletakkan di depan maka ia dibantu dengan iyya, yang disebut dengan shadru kalam. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in!. Jadi iyya itu shadru kalam untuk membantu, karena ka sebagai dhamir, yang fungsinya di sini adalah maf’ul, dan ia dhamir muttasil tidak bisa diletakkan di depan sendirian, nggak mungkin kita membacanya “ka na’budu ka nasta’inu. Dalam bahasa, itu tidak mungkin, itu tidak ada, oleh sebab itu dibantu dengan iyyaka. Seperti misalkan kalau kita dengar khatib berwasiat waktu khutbah ushikum wa iyyaya. Nggak bisa dia mengatakan ushikum wa ya, nggak bisa ushikum wa ana (nggak bisa), maka ia dibantu dengan iyya; ushikum wa iyyaya bitaqwallah. Walaupun ada juga saya dengar khatib yang merubahnya menjadi ushikum wa nafsi, mungkin maksudnya sama, tapi dalam penggunaan Bahasa Arab itu tidak tepat, karena tidak seimbang. Kalau ushikum wa nafsi itu padanannya adalah ushi anfusakum wa nafsi. Jadi karena sama-sama menggunakan dhamir maka yang tepat adalah  ushikum wa iyyaya, bukan ushikum wa nafsi. Ada juga khatib yang kreatif merubah sendiri, tapi walamahnya yang kurang, seperti alhamdulillahil ladzi an’ama itu banyak yang salah, banyak yang membaca alhamdulillahil ladzi an’amana bini’matil imani  wal islam, walaupun dimengerti maksudnya, lalu dari struktur Bahasa Arab itu tidak benar, tidak tepat, karena kalau an’ama harus ada ‘ala-nya, sehingga harus menjadi alhamdulillahil ladzi an’ama ‘alaina; shiratal ladzina an’amta ‘alaihim, jadi harus ada ‘ala-nya. An-asykura ni’matakal lati an’amta ‘alaiyya wa ‘ala walidayya. Jadi kalau kita mau menggubahnya harus diperhatikan kata sambungnya itu, sehingga menjadi alhamdulillahil ladzi an’ama ‘alainal imana  wal  islama jadi nggak pakai ba lagi. Kalau kita mengatakan alhamdulillahil ladzi an’amana bini’matil imani wal islam itu tidak tepat, tapi harusnya alhamdulillahil ladzi an’ama ‘alainal imana wal islam.

Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’inu, na.. itu namanya pendekatan bahasa. Seperti kalau kita baca kitab tafsir Fatkhu Qadir banyak menguraikan masalah nahwu-sharaf, apalagi kalau kita baca tafsir Al Kasyaf  karangan Az Zamakhsari dia memerlukan untuk menguraikan dari aspek bahasanya. Tapi tidak semua tafsir menguraikan aspek bahasanya, karena banyak juga pembaca yang tidak bersemangat (males ya…) untuk membaca masalah bahasa,  pokoknya langsung sajalah masalah isinya. Ngapain di urai-uraikan masalah-masalah itu, langsung sajalah isinya apa, kalau perlu kesimpulannya apa. Na.. kalau mau tafsir yang kesimpulan juga ada namanya tafsir Al Muyassar (tafsir yang ringkas). Jadi cuma sedikit saja uraiannya, atau Shafwatut Tafassir itu juga tafsir yang ringkas karangan Muhammad Ali Ash-Shabuni.

Bapak dan ibu yang saya hormati. Iyyaka na’budu, kenapa maf’ulnya diletakkan di depan? Jadi dalam Bahasa Arab (saya terpaksa pakai nahwu sedikit-ndak apa ya?) Dalam Bahasa Arab kalau yang harusnya di depan diletakkan di belakang, di belakang diletakkan di depan itu pasti ada maksudnya, namanya At- taqdim watta’khiru  (mendahulukan–membelakangkan). Untuk apa attaqdim watta’khir dalam Bahasa Arab? At-taqdimu watta’khir yufidu al hasru watta’kid,  gunanya adalah untuk membatasi dan menegaskan,  sehingga terjemahannya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in bukan hanya sekedar kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta pertolongan, tetapi harus ada sesungguhnya dan hanya, karena at-ta’kid itu (sesungguhnya), al hasru itu (hanya). Sesungguhnya hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan sesungguhnya hanya kepada Engkaulah  kami minta tolong, tidak kepada yang lain. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta tolong. Kalau kemudian kita ditolong oleh si A dan si B itu artinya Allah menolong kita lewat si A dan si B. Jangan sampai…sudah dari tadi setop bis nggak datang-datang, kemudian ada yang bawa mobil pribadi berhenti, apa bapak mau ditolong? Tidak hanya Allah-lah yang menolong saya. Allah sudah menolongnya dengan mengirim orang tadi, menyuruh orang tadi berhenti di situ, itu berarti Allah telah mengirim orang tadi untuk menolong. Apa maunya dia, Allah langsung menjemput dia, kan tidak mungkin? (hanya Allah-lah). Minta tolong sama saudaranya.., tidak! saya hanya minta tolong kepada Allah, sama juga kalau ditolong orang tidak mau terimakasih ya.., kenapa? hanya berterimakasih kepada Allah. Yaa…Allah sudah jelaskan, siapa yang berterimakasih kepada orang yang telah membantunya, itu sama juga artinya ia berterimakasih kepada Allah. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

 Ihdinasshiratal mustaqim  tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Ihdina berilah kami hidayah (tunjukilah kami). Asshiratal mustaqim; yang dimaksud dengan jalan yang lurus itu adalah Islam itu sendiri, karena Islam itu disimpulkan dengan jalan yang lurus. Apa itu jalan yang lurus? Seperti kita menempuh jalan atau mencari jalan untuk mencari sesuatu. Jalan lurus adalah jalan yang paling efektif dan paling efesien, itu jalan lurus artinya yang paling cepat sampai di tujuan (jalan lurus). Jadi kalau kita mau ke sana, lurus itu lebih cepat daripada kalau kita mutar dulu ke sana, kesana lagi, kesana lagi, ke sana lagi, nantinya kan sampai juga, tapi itu bukan jalan lurus, bisa efektif tapi tidak efesien. Na… jalan lurus itu adalah jalan yang efektif dan efesien. Ihdinasshiratal mustaqima: tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Nah.. hidayah itu ada bertingkat-tingkat. Pertama; Yang paling dasar sekali adalah hidayatul fitrah; hidayah yang diberikan kepada manusia sejak dia lahir, potensi untuk berbuat baik. Orang dilahirkan dalam konsep Islam itu selalu dalam keadaan baik bukan dalam keadaan buruk. Orang dilahirkan itu selalu dalam keadaan bertuhan bukan anti Tuhan. Jadi semua manusia dilahirkan bertuhan,  karena bertuhan adalah fitrah setiap manusia. Kalau dia tinggal di sebuah pulau, tidak bertemu dengan siapapun, tidak ada yang mengajarkan kepada dia siapa Tuhan, maka dia akan cari sendiri Tuhannya karena dia sudah bertuhan, dia ingin tahu siapa Tuhannya? Maka pada masarakat primitif tatkala dia melihat ada batu besar maka dia menyangka batu besar itu adalah Tuhannya. Tatkala dia melihat ada pohon beringin yang besar dia mengatakan pohon beringin itu adalah Tuhannya, itu adalah orang animis,  karena dia tidak mendapat petunjuk tentang Tuhan. Na…lama-lama setelah dia mulai berfikir dia melihat mungkin bapaknya, ibunya, saudaranya meninggal dunia, rohnya itu pergi ke mana? dan kemudian diyakini roh saudaranya, orang tuanya, nenek moyangnya tinggal di batu-batu, tinggal di pohon-pohon, maka sekarang dia meyakini batu sebagai Tuhan, bukan batunya tapi roh yang tinggal di batu itu, itu namanya  dinamis, itu tingkatan bertuhan secara primitif. Jadi kalau sekarang masih ada orang Indonesia yang percaya dengan roh yang berkuasa di batu, di pohon, di laut, itu memang masih. Orang tadi walau hidupnya abat dua puluh, tapi sebenarnya dia hidup pada abat primitif, orang yang sangat primitif, karena meyakini di batu itu, di pohon itu ada roh nenek moyangnya (dinamis). Na…tatkala kemudian dia berfikir lagi; banyak roh yang berkuasa di batu, di pohon, di laut, mesti ada pemimpin yang berkuasa dari roh-roh itu, maka dia percaya bahwa pemimpin dari roh-roh itu adalah Tuhan.Yang di air ada dewanya sendiri, yang di gunung ada dewanya sendiri, maka mulailah dia percaya dengan banyak Tuhan, menjadi politheis. Tatkala dia berfikir lagi sebegitu banyak tuhan-tuhan mesti ada Maha Tuhan, Maha Dewa, ada kordinator tuhan-tuhan, maka dia sampai kepada keyakinan satu Tuhan yaitu ajaran monotheisme, tapi satu Tuhan itu bisa bermacam-macam sesuai dengan pencariannya, orang Jepang sampai pada kesimpulan matahari-lah Tuhannya. Orang Persia sampai pada kesimpulan api-lah Tuhannya. Jadi manusia dengan fitrahnya saja bisa bertemu dengan Tuhan dan bisa bertauhid tapi tidak akan bisa sampai kepada Tuhan yang Maha Benar, Tuhan yang sebenarnya. Tuhan yang sebenarnya itu hanya bisa diketahui lewat pemberitahuan dari Allah melalui Nabi dan Rasul. Jadi yang pertama adalah hidayatu al fitrah. Walaupun dia mengaku tidak bertuhan seperti orang-orang atheis tapi sebenarnya orang atheis itu bertuhan, siapa Tuhannya? Yaitu atheisme itu, Tuhan dari seorang atheis adalah atheisme. Orang yang mempertuhankan hawa nafsu; yang menjadi hakimnya adalah hawa nafsu, maka hawa nafsunya telah menjadi Tuhannya “ara aita manittkhadza ilahahu hawahu”.

Hidayah yang kedua setelah hidayatul fitrah adalah hidayatul hawwas (panca indra). Jadi kita mencari kebenaran itu dapat petunjuk dari Allah lewat indra kita: mata, telinga, hidung dan lain-lain. Jadi dari melihat dan mendengar. Tapi kebenaran yang didapat dari panca indra terbatas karena keterbatasan panca indra itu sendiri. Kadang-kadang kita tertipu oleh mata kita. Kalau kita berjalan naik mobil di jalan raya pada waktu panas terik dari jauh kelihatan di tengah-tengah jalan raya kelihatan ada air. Mata  mengatakan ada air tapi setelah sampai di sana tidak ada air, berarti mata tertipu, yang ada cuma fatamorgana. Kalau kita naik kereta api berlari kencang kita lihat keluar, justru tiang-tiang listrik yang bergerak cepat. Kalau kita di lampu merah mobil kita berhenti kemudian mobil yang di sebelah kanan bergerak rasanya mobil kita yang mundur, padahal sebenarnya bukan mobil kita mundur tapi mobil orang lain maju. Jadi panca indra pun punya keterbatasan dan bisa melakukan kesalahan. Oleh sebab itu tidak cukup kebenaran itu hanya didapat dengan panca indra, harus ada kebenaran yang ketiga yaitu lewat akal. Maka Allah memberikan petunjuk kepada umat manusia lewat akal dinamai dengan hidayatul aqli; hidayah dengan akal, tapi akalpun punya keterbatasan. Akal tidak bisa mengetahui segala sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu ya… Jadi kalau tidak ada ikatan ruang dan waktu akal tidak bisa memahaminya. Kalau saya katakan; tahukah bapak sebuah tempat tidak di sini, tidak di sana dan tidak di mana-mana? Dimanakah tempat itu? coba dimana? tidak disini, tidak disana dan tidak dimana-mana, dimanakah tempat itu? dimana? bingungkan? Pernah terjadi suatu kejadian, tidak terjadi dulu, tidak sekarang dan tidak nanti, kapan terjadinya? dulu tidak, sekarang tidak, nanti juga tidak, tapi terjadi, kapan terjadinya? tidak bisa? kenapa? karena itu bukan wilayah akal. Kalau nggak ada batasannya akal tidak bisa masuk. Ruang waktu…,  jadi akal hanya  masuk di wilayah ruang dan waktu . Seribu tahun lagi, ok! Sejuta tahun lagi, ok!, satu milyard tahun lagi masih bisa kita pahami.Tapi kalau kekal buat selama-lamanya, na …akal sudah tidak bisa masuk lagi. Jadi ada wilayah yang akal  tidak bisa masuk. Sehingga kalau dikatakan syurga yang di dalamnya ada taman dan sungai-sungai. Maka coba hayalkan taman surga itu seperti apa ? taman Purworejo yang muncul, apa taman Purworjo yang bagus? O…, nggak ada taman yang bagus. Taman apa? Taman Kanak-kanak, Taman Sari. Kalau pergi ke Jakarta mungkin Taman Safari, Taman Mini. Jadi yang bisa dia hayalkan hanya taman yang pernah dilihatnya. Sungai, hayalkan sungai yang ada di surga! Paling-paling yang muncul hanyalah sungai yang pernah dilihatnya, apakah lihatnya langsung ataukah dilihatnya dalam film ataukah dilihatnya melalui gambar. Karena belum pernah dia lihat, dia tidak bisa menghayalkan. Kepada seorang pemuda kita katakan, coba kau hayalkan seorang gadis yang sangat cantik sekali!, Yang dihayalkan banyak orang; hidungnya seperti si A, matanya seperti si B, tingginya seperti ini. Jadi gabungan beberapa orang cantik menjadi satu itu yang ada dalam pikirannya. Bagaimana dia bisa membayangkan bidadari? Film-film barat itu membayangkan bidadari ya tidak lepas daripada cantik menurut ukuran mereka. Malaikat pun akhirnya bisa dibayangkan memakai sayap dan sayapnya seperti burung. Setan pun orang bisa membayangkan pakai tanduk dan tanduk itu pasti pernah dilihatnya di atas permukaan bumi ini. Jadi akal pun sangat terbatas. Oleh sebab itu perlu hidayah yang keempat yaitu wahyu. Hidayatul wahyi.  Yang belum diketahui oleh akal ditunjukkan oleh wahyu, yang akal salah diluruskan oleh wahyu. Ghaib!. Akal pun tidak bisa masuk alam ghaib. Jadi kalau ada orang yang di TV mengaku bisa berkomunikasi dengan alam ghaib, ya…untuk hiburan bolehlah di TV. Menangkap makhluk halus itu ya…?, siapa yang bisa membuktikan bahwa dia bisa menagkap makhluk halus? Apa cuma angin yang digini-ginikan….? Pak Suratnun juga bisa kalau begitu. Di panggil oleh kameramen RCTI, pak Suratnun disuruh beraksi ghaib, wa…makhluk halusnya keluar. Siapa yang bisa membuktikan bahwa dia memang betul-betul sedang bertarung dengan makhluk halus? Dipanggil ahlinya, ya…ahlinya juga ngomong iya juga tidak. Tapi biasanya orang Muhammadiyah nggak percaya dengan begitu-begituan ya…? paling ada satu-dua yang terpengaruh tapi umumnya tidak, satu-dua ada yang terpengaruh suka menuntut ilmu yang bisa berkomunikasi dengan jin. Di Jogja itu ada seorang ustadz Muhamadiyah, jadi Muhammadiyah ustadz/guru, dia mengaku bisa melihat jin, waktu dia mengajar dalam kelas, murid-muridnya perempuan, dia berteriak: “hue-hue kurang ajar! “ pergi!. Murid-muridnya mengatakan bahwa bapak sudah sakit jiwa, masak dia nunjuk begini…kurang ajar…pergi!. Padahal menurut ustadz tadi dia melihat jin laki-laki masuk, ngintip murid-muridnya, mengganggu, makanya diusir pergi. Waktu dia wudlu di tempat wudlu di suatu masjid dia ketawa-ketawa sendiri, terus ngomong sendiri “kurang ajar kamu…kurang ajar kamu….”, terus orang yang di sampingnya mengatakan sudah begini (gila), ustadz sudah miring. Kalau ditanya kepada dia katanya dia sedang ngomong dengan jin yang berwudlu di sampingnya yang bertelanjang. Makanya dia bilang pada jin yang telanjang itu “kurang ajar”, padahal orang lain tidak melihat. Jadi beruntunglah orang yang tidak bisa melihat jin. Kalau bisa melihat jin kita sering dikatakan “orang gila” oleh orang lain, apalagi kalau hidung kita tidak ada batasnya itu lebih gawat lagi, kalau mata kita tidak ada batasnya lebih repot lagi, telinga kita tidak ada batasnya .Untung kita, kita tidur di rumah semua orang yang mempergunjingkan kita, tidak kita dengar. Coba kalau kita tidur di rumah, satu Purworejo mempergunjingkan kita, nggak bisa tidur kita, he…saya diomongin. Untung hidung kita terbatas, kalau nggak, nggak bisa tidur kan? WC satu kilo tercium baunya. Wahyu!. Kita memerlukan wahyu untuk hidayah, itulah Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Tetapi itu belum cukup, perlu hidayah yang terakhir yaitu Hidayatut taufiq.. Hidayah taufiq. Apa itu Hidayah Taufiq? restu dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi walaupun orang itu sudah berada di depan wahyu, Al Qur’an dibawanya, mungkin ditaruhnya di dalam kantongnya, mungkin juga Al Qur’an itu dibacanya, mungkin juga ia telah menulis disertasi tentang Al Qur’an, tapi kalau Allah tidak memberikan taufiq, hidayah tetap tidak bisa masuk ke dalam dirinya. Betapa banyak orang yang menjadi ahli Al Qur’an, menjadi Doktor dalam bidang Al Qur’an, Profesor dalam bidang Al Qur’an, tapi hidayah Al Qur’an tidak masuk kepada dirinya, kenapa? dia belum mendapatkan taufiq dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi puncak dari hidayah yang kita inginkan itu adalah taufiq. Orang kita menterjemahkan dengan restu. Jadi taufiq itu berasal dari kata wafaqa. Wafaqa itu sesuai, menyetujui, muwafaqah (persetujuan). Jadi kalau ini iradatullah, ini iradatun nas (keinginan Allah, keinginan manusia). Na…kalau keinginan Allah dengan keinginan manusia bersatu, terjadi; kalau nggak, tidak terjadi. Na…persatuan itulah yang disebut dengan taufiq. Ana urid, anta turid, nahnu nurid, wallahu fa’alul lima yurid (saya ingin, anda ingin, kita semua ingin, tapi Allah melakukan apa yang Dia inginkan). Walaupun sudah sepuluh tahun pacaran, tapi nggak jadi menikah seperti Peggy Melati Sukma, ha…. sudah lama pacarannya. Jadi taufiq itu adalah persesuaian keinginan kita dengan keinginan Allah, kehendak kita dengan kehendak Allah. Betapapun manusia menginginkan kalau Allah tidak menginginkan, tidak akan terjadi. Makanya sudah  betul kalau kita minta kepada orang yang datang berkunjung waktu acara syukuran/perkawinan mohon doa restu; mohon restu ibu. Restu artinya taufiq. Billahitl taufiq wal hidayah lalu namanya Taufiq Hidayah (jadi juara bulu tangkis). Walaupun taufiq adalah bagian dari hidayah tapi dirangkai menjadi satu, tidak apa-apa. Kita mohon taufiq dari Allah dan hidayah yang lain itu artinya Billahittaufiq wal hidayah; kepada Allah-lah kita mengharapkan restu dan kepada Allah jugalah kita mengharapkan hidayah yang lain. Jadi yang khusus disebutkan dahulu, yang umum baru belakangan, tidak perlu dibalik. Karena sebagian orang saya lihat sudah mulai membalik-balik, wah…ini nggak tepat ini, lalu dibaliknya menjadi Billahil hidayah wat taufiq Pernah dengar ya..dibalik-balik? Billahil hidayah wat taufiq, dia merasa salah mendahulukan taufiq dari hidayah, kalau dalam Bahasa Arab itu biasa. Dalam Bahasa Arab mendahulukan dan membelakangkan itu biasa, yang di depan di belakangkan, yang di belakang di kedepankan, biasa… untuk sebuah maksud tertentu. Kenapa taufiq di dahulukan? karena itu dianggap yang paling penting. Taufiq yang paling penting. Maka diminta pertama kali; mohon taufiq dan juga hidayah-hidayah yang lain. Kalau kita minta bantuan ya..! yang kita minta yang paling penting apa yang kurang penting?. Paling penting dulu, mohon bantuan nasi kalau bisa dengan lauk pauknya!, mohon bantuan makan kalau bisa dengan snacknya! kan begitu?, Mohon bantuan makan dan minum kalau bisa ada uang sakunya. Jadi yang pokok itu yang pertama. Jangan, mohon  bantuan snack kalau bisa pakai makan! Ya…orang kasih snack saja, makannya nggak jadi, karena itu lebih mahal. Jadi kita minta yang lebih mahal dulu. Ihdinas shiratal mustaqim; jalan yang lurus adalah Islam. Itulah jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi, para Rasul, orang-orang shalih pada masa yang lalu.

Shiratal ladzina an’amta’alaihim yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Para mufassir umumnya mengatakan itu thariqul anbiya’i wal  mursalin was shuhadai was shalihin (jalan para nabi, rasul-rasul, orang-orang shalih dan para shuhada’).

Ghairil maghdzubi ‘alaihim ; bukan jalan orang-orang yang telah Engkau marahi, orang-orang yang telah Engkau kutuk yaitu jalan orang-orang Yahudi. Waladdlalin ; Dan bukan pula jalan orang yang sesat yaitu jalan orang-orang Nasrani. Bahaya kalau ada orang Yahudi / Nasrani mendengarkan, agak marah lah dia, untunglah nggak ada orang Yahudi / Nasrani ikut pengajian siang ini. Kalau ada kita nggak enak juga ya… menafsirkannya?. Waktu saya ke Libya tahun yang lalu, ada konfrensi di kota Tripoli, kita diundang, yang pertama tidak diundang tapi diberitakan bahwa Muhammad Al Kadafi akan datang berkunjung ke hotel, ke tempat pertemuan kita lalu dari pagi polisi sudah sibuk dan orang yang datang ke ruang pertemuan itu yang terlanjur bawa hand phone, bawa fhoto itu balik lagi ke hotel secepatnya, karena kalau dititipkan bisa kacau. Dulu kami pernah, 600 orang dari seluruh dunia datang ke kota Bengkazi namanya, mau ketemu juga dengan Muhammad Al Kadafi waktu itu, tiba-tiba saja semua kamera harus dititipkan dan tidak ada tempat penitipannya. Cuma ada satu tenda kumpulin di situ. Bayangkan ! 600 orang kalau separoh bawa kamera, kan…. 300 kamera ditumpuk begitu. Bayangkan! ngambilnya bagaimana itu? Nggak pakai nomor, nggak pakai kartu, tumpuk saja. Maka waktu di hotel itu orang memilih pulang kembali ke hotel meletakkan hand phone, kamera, balik ke ruangan acara daripada harus numpuk begitu. Sudah siap siaga begitu sampai sore Kadafi nya nggak jadi datang, polisi juga sibuk, jalan sudah diblokir, hand phone, kamera sudah diantar pulang, Kadafinya nggak jadi datang. Begitu sampai di rumah datang berita Kadafi menunggu di istananya. Jadi kami yang dibawa ke sana. Akhirnya kami naik bis ke istananya. Presiden Megawati pernah berkunjung ke istananya, waktu itu pemerintah dari rombongan Megawati masuk ke istana Kadafi itu seperti masuk di PERUMNAS, jadi melalui lorong-lorong, ternyata memang betul. Kami lihat ada pagar besar itu, bayangan saya dibalik pagar itu adalah istana ternyata dibalik pagar itu adalah pagar betis, terus kita jalan, lorong-lorong, mungkin seperti di perumahan-perumahan di Cempaka Putih, kita lewat situ. Na…sampailah di tempat istana lalu kita lihat di halaman istana itu ada unta berkeliaran, lalu kita ditampung di sebuah tenda besar, yang kursi-kursinya itu kursi plastik (tempat orang ta’ziah di Indonesia). Kalau kita ta’ziah itu kan pakai kursi plastik putih itu. Istana Kadafi menjamu tamu-tamunya pakai kursi plastik. Saya jadi heran, apa Kadafi itu nggak punya duit atau sengaja menyembunyikan duitnya?, padahal kan kaya dengan minyaknya. Di situlah dia ceramah sekitar satu jam, 30 menit menyerang Amerika, 30 menit menyerang Saudi Arabia, lengkap 60 menit. Waktu menyerang Amerika apa katanya? (Na…. ini menyangkut Al Fatihah). “Amerika sudah minta kepada  Saudi Arabia, (benar atau tidak itu Kadafi yang tahu ya…) bahwa tafsir surat Al Fatihah harus dirubah, karena di dalam tafsir surat Al Fatihah diajarkan semangat anti Yahudi dan Nasrani. Karena dinyatakan shiratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdlubi ‘alaihim waladdlalin, selalu ditafsirkan; bukan jalan orang-orang yang terkutuk yaitu Yahudi dan bukan pula jalan orang yang sesat yaitu Nasrani .

Selama Al Fatihah masih ditafsirkan seperti itu tidak mungkin umat Islam dapat hidup damai dengan Yahudi dan Kristen. Jadi kata Amerika kalau ingin damai antara Yahudi dan Kristen dengan Islam maka tafsir Al Fatihah harus direfisi kembali. Dalam hati saya benar nggak ya Amerika minta seperti itu? sebab kemungkinan benar ada saja, permintaan Amerika yang aneh-aneh juga banyak, kemungkinan benar bisa saja, mudah-mudahan tidak benar. Sebab kalau tafsir Al Fatihah diperbaiki,  wah….seluruh dunia kitab tafsir harus dikoreksi, karena boleh dikatakan semua kitab tafsir menguraikan seperti itu.

Yahudi dan Nasrani. Jadi yang pertama disebut terkutuk, yang kedua disebut sesat. Kenapa? jadi di sini ada tiga golongan, tiga jalan (Orang Beriman, Nabi-Rasul, Shuhada’-Shalihin; Yahudi dan Nasrani). Na…urusannya menurut saya dalam satu sisi adalah masalah ilmu dan amal. Masalah ilmu dan amal. Orang yang beriman itu berilmu dan beramal dengan ilmunya, itu yang terbaik, berilmu dan beramal dengan ilmunya. Kalau Yahudi berilmu tapi tidak mau mengamalkannya, itu Yahudi, berilmu tapi tidak mau mengamalkannya, kalau Nasrani mau mengamalkannya tapi tidak berdasarkan ilmu. Coba alangkah taatnya orang Kristen itu di Gereja, alangkah taatnya dengan Yesus Kristus, dengan Trinitas. Tapi coba tanya apa dasarnya? darimana dapatnya? tidak bisa!. Upacara-upacaranya tidak bisa dibuktikan itu berasal dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru berasal dari tradisi Kerajaan Romawi. Makanya orang Kristen marah tatkala membaca novel …………..,dalam Bahasa Indonesianya ada judul kecil “Memuaskan Nalar-Menggoyang Iman”. Tapi iman orang Kristen bukan iman orang Islam. Kalau saya membaca malah saya tambah mantab saja, karena ketemu dengan apa yang saya pelajari tentang “Pengaruh Romawi Terhadap Agama Kristen”. Dulu waktu saya kuliah di Arab Saudi sudah ada buku yang mengajarkan itu dalam Bahasa Arab menyatakan laisa bir ruman tanashorot walakinan nashora tarowaman (Bukan Romawi yang menjadi Nasrani tapi Nasrani yang menjadi Romawi).

Jadi waktu Kaisar Kostatif dari Romawi itu sudah melihat bahwa mulai ada pertikaian antara bangsa Romawi karena ajaran Isa (Nabi Isa a.s); atau Almasih itu semakin lama semakin banyak pegikutnya. Akhirnya Kaisar memutuskan menyatukan bangsa Romawi dalam satu agama. Apakah agama baru yang dibawa oleh Almasih atau masih mempertahankan agama lama, agama dewa-dewa. Maka Kaisar  Kostatif memutuskan menjadikan agama Nasrani sebagai agama resmi Romawi dan merubah Romawi menjadi kerajaan Kristen, tapi Kristen yang sudah diromawikan. Nah… salah satu yang diromawikan adalah tetap Natal. Menurut ajaran Romawi ada putra Tuhan. Ada putra Tuhan yang lahir pada tanggal 25 Desember, itu ajaran dewa-dewanya dulu. Ada putra Tuhan yang lahir pada tanggal 25 Desember, maka ajaran ini dibawa kepada ajaran Kristen lalu Isa Almasih atau Yesus Kristus dijadikan sebagai putra Tuhan dan dinyatakan lahirnya tanggal 25 Desember; jadi Natal. Apalagi kemudian natal-natalnya selalu pakai salju, ya… padahal Palestina tidak ada saljunya. Yang salju itu Romawi (Eropa yang ada saljunya). Mohon maaf ya…. apalagi Katolik, kalau kita lihat Katolik itu persis struktur kerajaan Romawi. Kaisar-Kaisar yang agung itu adalah Paus, bajunya, kerajaannya, pakaiannya semua sama. Kemudian para Menteri, pembesar-pebesar istana adalah Uskup-Uskup Agung. Prajurit-prajuritnya adalah Pastur-Pastur, Romo-Romo. Rakyat tidak punya peran sehingga tidak sama dengan Masjid ya… Kalau di Masjid kan siapa saja boleh adzan, siapa saja boleh jadi imam dan siapa saja boleh jadi khotib, di gereja tidak boleh, semua harus ada struktur. Maka pada tahun 1982, saya menyempatkan diri ikut menonton sembahyang di Gereja San Petro di Vatikan. Saya datang berdua dengan teman touris dan masih berumur 27 tahun, dan masuk misa pada hari minggu di Gereja. Tapi sayang pada waktu itu  Paus-nya tidak keluar karena dia takut, baru saja di tembak oleh orang Turki, jadi yang keluar adalah wakil Paus. Saya nonton, saya membayangkan betul ini suasananya adalah kerajaan (kerajaan Romawi). Pakaian kebesaran, Al-Kitab!. Kemudian untuk.. ya..! sebelum membalikkan Al-Kitab, tangan wakil Paus tadi dibersihkan, dan ada orang yang membawakan airnya, pakaiannya juga berbeda-beda, menunjukkan hirarkinya (strukturnya). Kalau kita kan..! kadang-kadang pakaian jamaah lebih hebat dari pada pakaian ustadz begitu. Ustadznya Cuma pakai sarung, pakai baju taqwa, jamaahnya pakai jubah, pakai serban, lebih kyai dari pada pakaian kyainya sendiri. Tapi kalau di Kristen tidak bisa, pakain menunjukkan hirarki (strukturnya). Saya ikut dari awal sampai akhir, walaupun tidak satu katapun saya paham, karena dalam bahasa Italia, entah apa yang dibacanya. Na… puncaknya semua jamaah berbaris kedepan untuk diminumkan itu…. (permen putih) yang ada dalam air, disuapkan ke mulut satu-satu. Wa.. saya juga ikut antri itu, nunggu giliran disuapi. Cuma semakin dekat saya semakin takut. Haram ini masuk perut, ini sama dengan sesajen. Jadi semakin lama saya semakin takut. Tapi mau kabur juga takut nanti ketahuan. Akhirnya sambil berunding-runding dengan teman, ini gimana caranya ya… kabur apa…? kalau terus saja berarti masuk mulut saya itu. Untunglah kira-kira tiga orang lagi gilirannya sampai, orang yang didepan saya itu badannya besar jadi yang bagi-bagikan tidak lihat saya, karena tertutup oleh orang yang badannya besar, lalu saya langsung lari berdua dengan teman – keluar – tidak ada yang mengejar. Alhamdulillah!. Tahun 1982 itu, sudah lama (umur 27)! Dan memang wajib kalau ibu-ibu masuk ke dalam itu harus pakai kerudung, disewakan kerudungnya, jadi tidak boleh membuka rambut, karena aslinya perempuan-perempuan Kristen itu juga pakai kerudung seperti biara-biarawati yang ada di dalam film-film. Cuma kalau sekarangkan bajunya semakin naik keatas sampai ke lutut, terus kerudungnya tinggal sedikit. Jadi ihdinas shirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdzubi ‘alaihim waladh dhalin. Nah Al Fatihah ini seperti dikatakan minggu yang  lalu adalah merupakan gambaran keseluruhan isi Al-Qur’an. Oleh sebab itu nanti seluruh isi Al Fatihah akan diuraikan secara rinci pada 113 surat yang lain. Tentang Bismillahirrahmanirrahim; tentang Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang nanti ada banyak ayat yang menguraikan tentang Allah itu sendiri. Alhamdulillahirabbil ‘alamin; tentang Allah yang menciptakan, yang menjadi Tuhan semesta alam; nanti ada banyak ayat yang menguraikannya. Malikiyaumiddin; Allah yang menguasai hari akhir, nanti ada banyak ayat yang menguraikan tentang hari akhir. Iyyaka na’budu; banyak ayat nanti yang menjelaskan bagaimana cara beribadah. Waiyyaka nasta’in; bagaimana cara kita minta tolong pada Allah, Ihdinasshiratal mustaqim; banyak ayat yang menjelaskan tentang jalan yang lurus itu, tentang shiratal mustaqim. Shiratalladzina an’amta ’alaihim; ayat yang menjelaskan sejarah umat-umat yang lalu yang termasuk an’amta ‘alaihim. Ghairilmaghdzubi’alaihim waladzdlalin, juga banyak ayat yang menjelaskan tentang orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani atau perilaku orang-orang  seperti Yahudi dan Nasrani. Oleh sebab itu Al Fatihah semacam muqaddimahnya, semacam priambule-nya nanti akan dijelaskan secara rinci pada surat-surat yang lain.

 Wassalamu’alaikum warahmatllahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: