Anak : Apa kata Al Quran dan Nabi Tentang Anak ?

(Pengajian oleh : Quraish Shihab)

 

Kebetulan pengajian yang hadir saat ini adalah ibu-ibu, bukan berarti yang mengasuh anak adalah kewajiban ibu semata, tapi juga bapak. Bahkan di dalam Al Quran banyak merekam bahwa kewajiban mendidik anak justru dari bapak. Seperti kisah Luqmanul hakim dalam Surat Luqman.

Sebenarnya anak adalah dambaan semua makhluk, bukan hanya manusia. Itu sebabnya salah satu firman Allah :

“Aku tidak perlu bersumpah dengan negeri kota Mekkah, dan aku tidak perlu bersumpah menyangkut ayah dan anak”. Ini menunjukkan suatu naluri bahwa semua makhluk hidup mendambakan keturunan untuk melanjutkan jenisnya.

Karena anak adalah dambaan, maka semua makhluk hidup menggantungkan harapan pada sang anak. Kalau pada manusia, kita menginginkan anak kita menjadi anak yang sholeh, dan bahkan lebih dari sholeh yaitu sebagai qurrota a’yun (penyejuk mata).

Ini dilukiskan QS. Al-A’raaf:189 :


“Dia yang telah menciptakan kamu pasangan dari jenis yang sama (jenis manusia), sewaktu sang suami menyentuhnya/menyelubunginya (kata halus dari hubungan seks), isterinya hamil, kandungannya masih ringan, maka berlalulah hari-hari sampai menjadi berat. Maka ketika itu, keduanya (si ibu dan bapak) berdoa, ya Allah jika Engkau jadikan anak ini anak yang shaleh, sempurna jasmani dan rohani, maka kami akan bersyukur”.

Disebutkan di ayat yang lain “Juga mereka diliputi rasa ragu dan diselimuti kecemasan serta harapan.”

Itu semua terjadi karena kita sangat mendambakan anak.

Dalam membesarkan dan mendidik anak, maka perlu digarisbawahi bahwa 2 faktor yang nantinya akan membentuk anak itu dan mempengaruhi perkembangan jiwa dan jasmaninya :

  1. Faktor keturunan. Sering kita mendengar komentar “Anak itu mirip bapak atau ibunya”. Karena itu jika ingin mendapatkan anak yang baik, maka pilih pasangan yang baik. Nabi sudah ingatkan : “Pilih-pilihlah tempat kamu menempatkan benihmu”, kenapa? karena ada faktor gen yang akan menurun kepada anak.

  2. Faktor pendidikan. Jangan menduga pendidikan ini hanya bisa dimulai saat bayi sudah bisa bicara. Yang benar adalah pendidikan dimulai sejak pertemuan sperma dan ovum.

Saya (pak quraish) ingin menggambarkan bahwa jiwa itu sangat mempengaruhi sebuah aktifitas atau pekerjaan. Contoh, ibu-ibu akan berbeda masak untuk suami dengan masak untuk tamu. Kira-kira mana yang lebih bagus? Buat tamu biasanya lebih bagus. Kenapa? Karena jiwa berupa perhatian ibu kepada tamu menjadikan ibu-ibu sangat berhati-hati dalam memilih bahan dan resep. Menjahit untuk pakaian ke pesta dan menjahit untuk pakaian tidur, akan berbeda. Itu disebabkan kondisi kejiwaan yang berbeda saat membuat dua jenis pakaian tersebut.

Maka demikian pulalah, jika berhubungan seks dalam rangka mempertemukan sperma dan ovum, ketika awal pembentukan anak, sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan ibu dan bapaknya. Jika hubungan seks dilakukan dalam keadaan takut, maka anaknya dapat menjadi penakut. Maka agama mengajarkan agar melakukan hubungan seks harus dalam suasana keagaamaan, baca doa, agar anak itu membawa benih yang baik dan jiwa yang sehat dan kuat.

Ibu dan bapak juga sangat berperan besar dalam kesempurnaan kelahiran anak tersebut. Itu sebabnya dalam AlQuran, ketika Allah berbicara tentang penciptaan Adam dimana tidak ada bapak dan ibunya, maka Allah berfirman dengan kata “Khalaqtu” (Aku ciptakan) dalam firman Allah “Hai iblis, apa yang menghalangi kamu terhadap apa yang Aku ciptakan ?”. Allah gunakan kata “Aku” dalam penciptaan Adam, tidak ada yang terlibat kecuali Allah semata.

Tetapi sewaktu reproduksi anak manusia, Allah berfiirman “Laqad khalaqnal insaana fiii ahsani taqwim”. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Kenapa menggunakan kata “Kami” ? Karena ibu dan bapak terlibat dalam hal penciptaan anak. Oleh karena itu mendidik anak adalah dari sejak pertemuan sperma dan ovum.

Anak yang lahir sudah dapat merasakan kasih sayang ibu bapaknya. Anak yang telah lahir seminggu sudah dapat tertawa, mengapa? Itu bukan karena dia sudah dapat melihat ibu bapaknya, melainkan dia sudah merasakan kasih sayang ibu bapaknya. Itu sebabnya bayi yang butapun dapat tertawa, karena dia sudah punya perasaan. Ini seringkali tidak kita sadari dan akibatnya kita salah didik anak sejak kecil.

Jaman nabi, ada anak digendong oleh nabi, tiba-tiba anaknya pipis, kemudian direnggut anak tersebut oleh ibunya. Apakah anaknya tidak memiliki perasaan ketika itu? Pasti. Karena itu, Nabi menegur, “Hai ibu, pipisnya ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi hatinya yang luka, siapa yang bisa membersihkannya?”.

Sebagian besar dari kompleks-kompleks kejiwaan (rasa minder dsb) disebabkan adalah perlakuan orang tua atau lingkungan sekitarnya ketika orang tersebut masih kecil.

Dalam mendidik anak bukan hanya kewajiban ibu. Kita lihat dalam AlQuran, bagaimana Luqman mendidik anaknya. Luqman adalah seorang bapak.

Kita kupas dan lihat lagi ayat AlQuraan ditujukan pada suami :

“Isteri-isteri kamu adalah ladang buat kamu”. Jadi suaminya adalah petani. Ayat ini menyatakan, bahwa yang menentukan jenis kelamin adalah bapak. Betul memang Allah yang menentukan tapi Allah tentukan jenis kelamin anak melalui satu sistem, yaitu melalui bapak/laki-laki.

Laki-laki membawa kromosom XY, perempuan membawa kromosom XX. Kalau bertemu kemudian menghasilkan XY, maka akan menghasilkan anak laki-laki, tapi kalau menghasilkan pertemuan XX, maka akan menghasilkan anak perempuan. Jadi yang menentukan jenis kelamin anak adalah bapak. Keliru jika ada bapak-bapak yang mengatakan belum mendapatkan anak laki-laki atau anak perempuan, maka dia akan kawin lagi. Keliru pendapat ini, karena penentuan jenis kelamin bukan kesalahan ibunya melainkan kesalahan bapaknya sendiri.

Karena bapak sebagai petani, maka kalau mau tomat, ya tanam tomat. Jika ingin apel maka tanam apel. Jangan marah jika ingin apel tapi jadinya tomat karena yang ditanam tomat.

Tapi pengertian “ladang bagi kamu” tidak hanya sampai disitu. Petani jika sudah menanam benih apakah lantas dia tinggalkan/biarkan saja ladang dan benih tersebut? Tentu tidak, petani akan memelihara, merawat, menyiram benih dan ladang tersebut. Jika ada hama, dia bersihkan. Dia pupuk ladangnya agar tetap subur. Apabila benih tersebut sudah tumbuh dan berbuah maka sang petani tetap memelihara tumbuhan tersebut. Begitulah seharusnya mendidik anak bagi para laki-laki yang diibaratkan sebagai petani dan isteri-isterinya sebagai ladang.

Sang petani pula ketika menanam benih, berharap semoga dia tidak salah menanamnya di batu karang, tapi di tanah yang subur, mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan sebagainya. Begitu pula dengan benih sperma, semoga sang ayah tidak salah menanamnya di tempat yang tidak subur, mendapatkan sinar lingkungan yang baik, cukup makanan dan pakaian yang akan menumbuhkannya. Begitulah cara mendidik anak sejak penanaman benih dilakukan.

Watak manusia sebagian besar lahir dari pengalaman-pengalamannya, pendidikan dan pembiasaannya semenjak kecil. Seringkali kita lihat orang tua tidak membiasakan anaknya sejak kecil kepada kebaikan. Oleh karena itu, Nabi bersabda, “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya agar bisa berbakti kepadanya”. Maksudnya adalah orang tua menerima dan mengabulkan apa yang mudah bagi sang anak, tidak membebani anak dengan beban yang berat, seperti tidak menyuruh sholat tahajud, puasa sunnah karena anak masih kecil.

Lalu orang tua tidak menghinanya, “dasar bodoh, masa rangking 10”. Kalau anak dimaki, kita mengajar kepadanya bagaimana memaki. Kalau anak dihina, kita membentuk kepribadian anak rendah diri.

Cinta kepada anak bukan menjadikan anak itu seperti kita. Cinta itu adalah hubungan dua “aku”, jadi harus berbeda. Cinta itu mendidik anak sesuai dengan kepribadian dan bawaannya. Anak secara fisik bisa sama dengan bapak ibunya, tapi jangan paksa anak menjadi bapak ibunya dari segi tabiat dan pendidikannya. Anak saya (pak Quraish) tidak ada yang ingin menjadi kyai seperti saya. Saya tidak bisa memaksa. Tapi saya bisa mendidik mereka dengan didikan agama, sehingga jika mereka menjadi musisi maka dapat menjadi musisi yang agamawan. Karena itu, sang anak bisa mencintai saya, dan sayapun dapat mencintainya, karena cinta itu adalah hubungan dua “aku”.

Kira-kira umur berapa mendidik anak dengan memasukkan nilai-nilai agama seperti mengajarkan sholat?Mendidik anak itu sejak janin seperti yang sudah disebutkan di atas, tapi tidak secara langsung. Mendidik anak bisa melalui perasaan kita, melalui lingkungan, melalui kasih sayang yang mengalir dari kita kepadanya, sehingga melahirkan kasih sayang dia kepada ibunya. Begitu dia lahir, sedikit demi sedikit, kita didik dia sesuai perkembangan otaknya/pikirannya. Memang pada awal-awal anak itu menyerap pendidikan melalui matanya daripada melalui otaknya. Jadi dia dapat diberi contoh-contoh oleh orang tuanya.

 

Sebagai contoh tentang sholat, dia bisa diberi contoh bagaimana sholat dengan mengikuti ibu bapaknya, namun dia belum bisa diberi keterangan bahwa sholat itu wajib karena dia belum mengerti. Nanti setelah dia dewasa menurut hadits Nabi, “Perintahkanlah sholat ketika anakmu berusia 7 tahun”. Karena anak tersebut sudah dapat mengerti tentang suatu kewajiban menginjak usia tersebut.

Mengajar sabar kepada anak, bisa dilakukan ketika anak berusia 1 tahun. Sekarang ada lembaga-lembaga pendidikan yang menerapkan pendidikan anak usia 3-4 bulan melalui contoh. Seperti jika seorang anak sangat menginginkan mainannya, diajaknya untuk bersabar.

Betul, dalam janin dapat didik melalui diperdengarkan kepadanya musik atau mengaji dari ibunya, karena itu pula anak yang lahir maka diperdengarkan pertama kali dengan adzan dan qomat. Boleh jadi anak tersebut belum mengerti apa yang dia dengar tapi bayi atau janin tersebut sudah memiliki perasaan. Karena salah satu alat untuk menangkap pengetahuan adalah perasaan.

Saya punya anak umur 9 tahun, ketika saya suruh anak untuk sholat shubuh masih susah untuk membangunkan dia. Apa yang harus saya lakukan padanya?

Kita lihat dulu pembiasaan di lingkungan dalam rumahnya. Tidur adalah pembiasaan. Jika sang anak melihat kondisi pembiasaan orang tuanya bangun siang, maka dia otomatis terbiasa bangun siang. Jika orang tua terbiasa tidur larut malam, maka sang anak akan belajar untuk tidur larut malam.

Atau walaupun orang tuanya terbiasa bangun jam 3.30 WIB malam untuk tahajud, tapi kalau sampai memaksa anak yang masih kecil untuk selalu bangun saat itu, dan terasa berat bagi sang anak, maka itu dapat membuat anak menjadi terbebani. Biarlah anak itu tidur yang terpenting anak kita sholat wajib. Allah merahmati seorang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya. Kalau terus dipaksa bangun maka bisa dimungkinkan anak itu berani berbohong, dia akan berani berkata sudah sholat tapi tidur kembali, padahal dia belum sholat.

Situasi anak kita sudah berbeda dengan kondisi kita dahulu. Maka mendidik mereka harus sesuai dengan kondisi generasinya saat ini dan yang akan datang. Orang tua dituntut untuk banyak mengerti kondisi anak. Selama tidak melanggar agama, maka orang tua seharusnya mendukung sang anak, walaupun itu bertentangan dengan keinginan orang tua, seperti cita-cita sang anak. Mendidik anak bukan membentuk anak seperti kita melainkan membentuk mereka dengan tabiat untuk kesiapan masa depannya, dan sesuai dengan kondisi generasinya.

“Ajarlah anak-anakmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu”, kata Ali bin Abi Thalib.

Dosakah apabila keras sedikit untuk anak ketika anak tersebut tidak mengikuti perintah agama? Kadang timbul rasa bosan karena harus terus menerus mengingatkan pada sang anak?

Kita harus bersahabat dengan anak. Kita harus menjadi bagian anaknya. Ada anak yang jika dimarahi dia menjauh, ketika dibujuk dia mendekat. Kenalilah mereka. Kalau kita bersahabat, dia akan mencurahkan isi hatinya. Kalau kita bersahabat pada mereka, maka kita akan menuntun dia dan dia dengan rela akan mengikuti tuntunan tersebut. Ada anak yang tidak perlu dimarahi, tapi ada pula anak yang perlu dimarahi.

Jangan bosan, karena kalau tidak sabar akan merugi seperti disebutkan dalam surat Al-Ashr, “Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran”.

Lingkungan seperti media massa saat ini banyak menayangkan tayangan yang belum pantas, bagaimana menyikapi hal ini agar anak kita menjadi anak yang sholeh? Bagaimana bila mengumandangkan adzan pada saat anak kita lahir dengan menggunakan kaset?

Disinilah kita harus pandai-pandai memilih bacaan dan tayangan untuk mereka. Kalaupun sulit untuk itu, maka ketika melihat tayangan televisi anak harus didampingi oleh orang tuanya. Kalaupun ini masih sulit, setidaknya ada pengawasan.

Tentang kaset yang diperdengarkan kepada bayi, kalau sewaktu-waktu memperdengarkan melalui kaset tidaklah mengapa, seperti diperdengarkan kaset-kaset pengajian. Tapi kalau bisa adzan/mengaji dengan suara sendiri alangkah lebih bagus.

Kesimpulan :
  1. Jangan sampai terlambat dalam mendidik anak, sehingga orang lain atau lingkungan yang akan membentuknya. Kita tidak tahu dan tidak bisa mengontrol secara langsung bagaimana jika mereka yang mendidik anak kita.

  2. Mendidik anak bukan hanya tugas ibu, tapi tugas bapak pula. Tidak benar jika anaknya nakal maka yang salah hanya ibunya, tapi juga bapaknya.

  3. Banyak sekali pembentukan kepribadian seseorang itu adalah pada masa kecil dan pertumbuhannya. Mendidik anak di waktu kecil seperti mengukir di batu, mendidik anak di waktu besar seperti mengukir di air. Kalau baik pendidikannya di masa kecil, maka insya Allah akan baik sampai dia dewasa.

2 Tanggapan

  1. paling enak membiasakan ibadah ke anak tuh pas balita. Soalnya pada usia ini anak emang lagi tahap peniruan🙂

  2. betul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: