Aspek Syar’i dan Iptek Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Oleh : Dr.Ing. Fahmi Amhar (Bakosurtanal, Cibinong, Bogor)

Abstrak

     Tulisan ini menyampaikan beberapa aspek syar’i dan fakta iptek yang berkaitan dengan ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang sering terjadi pada ummat Islam.  Fakta obyektif menunjukkan, bahwa secara teknis penentuan awal Ramadhan dan Syawal memang selalu memiliki potensi untuk berbeda, apapun landasan fiqh yang dipilih atau dipakai.  Dengan kata lain, perbedaan teknis ini hanya mungkin diatasi (disatukan) oleh suatu keputusan syar’i.

Pendahuluan : Rukyat vs Hisab

Perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal (hari raya Iedul Fitri) sering terjadi pada ummat Islam.  Yang di Indonesia biasa dijadikan “kambing hitam” adalah perbedaan fiqh dalam memahami sejumlah hadits, misalnya:

Janganlah berpuasa hingga terlihat bulan.  Dan janganlah berbuka (mengakhiri Ramadhan) hingga terlihat bulan pula.  Maka jika pandangan kalian terhalang, sempurnakan bilangan bulan sebanyak 30 hari.  (HR. Bukhari & Muslim).

Pada intinya perbedaan ini menimbulkan dua “mazhab”, yang secara sederhana bisa disebut “mazhab rukyat” (yang mendasarkan awal bulan pada terlihatnya bulan sabit) dan “mazhab hisab” (yang mendasarkan awal Ramadhan dan Syawal pada perhitungan mutlak).

Madzhab rukyat yang dipegang jumhur ulama berpegang pada nash hadits tersebut.  Memang yang diwajibkan adalah berpuasanya, bukan rukyatnya.  Namun karena perintah rukyat itu berkait dengan suatu hal yang bersifat wajib, maka perintah itupun menjadi wajib.

Sedang madzhab hisab menafsirkan rukyat tidak sekedar bermakna rukyat bil-‘ain (dengan mata) namun juga rukyat bil-‘aqli (dengan akal, dan berarti dengan perhitungan). 

Ulama-ulama terdahulu menolak hisab mutlak karena hisab masih tercampur aduk dengan ilmu nujum (astrologi, meramal nasib dengan bintang) dan juga karena akurasinya yang masih rendah, sehingga hasil hitungan antara ahli hisab satu dengan yang lain masih saling bertentangan, padahal fakta benda langitnya adalah satu.  Sebagai contoh adalah pada awal Syawal 1413H (1993M) yang lalu, di departemen Agama ada 16 macam data ijtima’ yang berbeda (lihat Tabel 1).

Ketika dewasa ini ilmu astronomi makin maju, dan orang bahkan sudah mampu mendarat di bulan, maka sebagian besar ulama mutaakhirin berpendapat bahwa hisab modern hukumnya mubah, namun rukyat tetap wajib dilakukan, karena sesuatu yang mubah tidak menggugurkan sesuatu yang fardhu. 

Hisab dipakai untuk memprediksi posisi, arah dan waktu untuk rukyatul hilal.  Rukyat tetap dilakukan karena tetap akan ada faktor cuaca yang tak mungkin bisa dihisab.  Sedang teknologi observasi dikembangkan untuk membantu rukyat agar terhindar dari salah atau untuk mengenali bulan sabit meskipun cahayanya masih lemah.  Misalnya telah dikembangkan “teleskop rukyat”, yakni sensor (kamera) digital baik aktif maupun pasif yang citranya kemudian diperkuat dan direkam (lihat paper Farid Ruskanda, di “Rukyah dengan Teknologi”).  Bahkan juga telah dipikirkan untuk menggunakan platform pesawat terbang sehingga rukyat bisa dilakukan di atas awan.

 

Tabel 1:
Rekapitulasi data hisab awal Syawal 1413H

(sumber: “Rukyah dengan Teknologi, halaman 90)

 

Tulisan ini akan menyampaikan fakta astro-geografis, untuk memahami sejauh mana kedua mazhab itu bisa diterjemahkan secara teknis.

Setelah memahami “manatul hukum” (fakta hukum) ini, kemudian baru akan diketengahkan pembahasannya secara syar’i, terutama pada aspek wilayah berlakunya hasil rukyat/hisab.

 

Rukyatul Hilal

Rukyatul hilal adalah melihat bulan sabit setelah ijtima’ dan setelah wujud di atas ufuk.  Ijtima’ atau konyungsi adalah saat bulan dan matahari memiliki bujur ekliptika yang sama.  Ekliptika adalah sistem koordinat langit untuk menggambarkan posisi matahari, bulan, dan planet-planet dekat.

Peristiwa ijtima’ terjadi serentak sekali setiap satu periode bulan mengelilingi bumi (sinodis).  Dengan demikian pada saat ijtima’, ada wilayah di muka bumi yang sedang pagi, siang, sore atau malam hari.  Sedangkan hilal hanya bisa dilihat di sore hari, bila tingginya sudah cukup, sehingga pada saat matahari terbenam, bulan masih di atas ufuk (Barat), sehingga ada bagiannya yang memantulkan cahaya matahari ke bumi, sebelum akhirnya bulan terbenam menyusul matahari.  Inilah bulan sabit yang ditunggu-tunggu.

Oleh karena itu, meski ijtima’ terjadi serentak, namun peristiwa hilal bisa dirukyat tidaklah serentak, melainkan terikat oleh aspek astronomi (posisi bujur dan lintang pengamat) dan aspek geografi (perbedaan zone waktu).  Secara astro-geografi, daerah yang lebih barat (dihitung dari Batas Tanggal Internasional) akan menyaksikan bulan yang lebih tua, sehingga peluang rukyatul hilal pada hari yang sama akan lebih besar. 

Dalam pelaksanaannya, waktu rukyat adalah amat pendek, yakni kurang dari satu jam setelah matahari terbenam.  Maka suatu berita rukyatul hilal yang terjadi sebelum matahari terbenam di tempat tersebut, atau setelah tengah malam, atau bahkan sebelum ijtima’ adalah wajib ditolak.

Secara teknis, pelaksanaan rukyat mudah dilakukan oleh siapa saja, asalkan cuaca baik (tidak mendung), topografi memungkinkan (tidak ada penghalang ke ufuk barat) dan pengamat bermata sehat serta biasa memperhatikan langit.  Syarat syar’i untuk pengamat rukyat adalah aql, baligh dan adl (tidak terkenal gemar berbohong).  Tentu saja ini berlaku pada masyarakat yang memang tahu apa yang disebut hilal.

Kepada ummatnya Rasulullah mewajibkan rukyat, karena mereka yang tinggal di padang pasir yang kering dan terbiasa berjalan di padang pasir dengan hanya dipandu oleh bintang-bintang, pasti lebih mudah melihat hilal daripada menghitungnya.  Apalagi pada saat itu belum banyak dari kaum muslimin yang mampu menulis atau berhitung.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar: Nabi berkata: “Kita ini adalah kaum yang buta huruf, kita tidak menulis dan kita tidak menghitung.  Dan bulan itu kadang 29 dan kadang 30 hari” (HR Bukhari)

Namun, perbedaan cuaca, topografi, kondisi tubuh serta pengalaman pengamat (subyektifitas pengamat) membuat hasil rukyat bisa berbeda. Sebenarnya perbedaan demikian tidak banyak pengaruhnya selama daerah-daerah pengamat saling terisolir, karena kemudian seruan untuk menggenapkan bulan menjadi 30 hari (istikmal) tidak akan berkomplikasi.  Dengan demikian, tiap daerah akan memiliki “kalender” yang berbeda, sehingga mereka juga akan rukyat untuk bulan berikutnya pada hari yang berbeda.  Sebagai contoh untuk bulan Ramadhan, rukyat dilakukan pada 29 Sya’ban, namun kapan 29 Sya’ban itu, bisa jadi ikhtilaf (lihat Contoh-1 pada Lampiran).

Bila daerah-daerah itu berhubungan, maka sudah sewajarnya bila daerah yang terlambat mengetahui hilal karena faktor cuaca, topografi atau personal, mengikuti penglihatan daerah lain yang lebih dulu melihatnya.  Andaikata mereka terlambat puasa, maka mereka harus segera membayarnya seusai Ramadhan.  Sedang bila mereka masih berpuasa saat mendengar bahwa hari itu Ied, mereka wajib langsung berbuka.  Namun seberapa jauh hal ini berlaku?

Menurut Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Fiqh ‘ala al-Mazhahib al-Araba’ah juz 1 hlm 550, dari empat madzhab fiqh yang terkenal, tiga di antaranya (Hanafi, Maliki, Hambali) cenderung kepada rukyat global, yaitu bahwa suatu kesaksian rukyat berlaku untuk kaum muslimin di seluruh dunia.  Sedang pengikut Imam Syafi’i condong kepada rukyat lokal yang hanya berlaku satu matla, yang kurang lebih radius 24 farsakh (kurang lebih 120 Km).  Menurut Imam Syaukani dalam Nailul Authar juz III hlm 125, pendapat kalangan Syafi’i ini berasal dari kerancuan memahami hadits Kuraib, yaitu saat menafsirkan ucapan Ibnu Abas –yang tetap berpuasa sesuai rukyatul hilal di Madinah, dan tidak mengikuti hasil penglihatan bulan sabit oleh banyak orang di Damaskus yang satu hari lebih awal- sebagai “Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami”.  (HR Jama’ah selain Bukhari dan Ibnu Majah).  Dalam mengomentari hadits ini, Imam Syaukani berpendapat, bahwa yang layak menjadi hujjah itu adalah riwayat yang mar’fu (yakni ucapan Rasul sendiri), dan bukan ijtihad atau pemahaman Ibnu Abbas atas ucapan Rasul.  Sedangkan ucapan Rasul seperti dikutip pada awal tulisan ini, adalah merupakan seruan yang tertuju kepada siapapun di antara kaum muslimin dan tidak dikhususkan pada penduduk suatu daerah tertentu.

Di masa transportasi dan telekomunikasi sudah maju seperti dewasa ini, pendapat yang condong kepada matla memang jadi tidak praktis dan kurang populer, sebab satu kabupaten saja bisa terpecah menjadi beberapa matla.  Beberapa negara kemudian condong kepada apa yang disebut dengan “wilayatul hukmi”, walaupun tidak mencapai skop global.  Tentu saja dilihat dari realita, dewasa ini memang tidak ada wilayah hukum negeri muslim yang mencapai skop global, tapi ini bukanlah suatu yang mustahil, karena di masa lalu, wilayah kaum muslimin telah membentang dari tepi Atlantik sampai batas Cina, dan dewasa ini, beberapa negara adidaya memiliki wilayah-wilayah administratif di seberang lautan (seperti Perancis dengan Guyana dan Atol di Pasifik).


Memang dalam skala global (dunia) tetap akan ada problem teknis rukyat global, yakni akibat perbedaan daerah waktu, yang berakibat hasil rukyat di suatu tempat akan terdengar di daerah lain pada saat yang berbeda, yang dalam kondisi ekstrim bisa mencapai satu hari (Lihat Contoh-2 Lampiran).  Pada kondisi ini, yang bisa dilakukan adalah berpegang pada prinsip bahwa puasa itu dilakukan “mulai fajar berikut” setelah terlihat hilal, dan tidak harus pada hari dengan nama hari yang sama. 

Hal ini karena rukyat (dan juga hisab) global pasti membuat suatu batas tanggal qomariah yang bersifat dinamis (bergeser tiap bulan) dan berbeda dengan batas tanggal internasional. Hanya terkadang batas tanggal kalender Qomariyah itu hampir berimpit dengan batas tanggal internasional seperti pada peristiwa Iedul Adha 1418 lalu (lihat tulisan T. Djamaluddin di.  Pikiran Rakyat, 15 April 1998 halaman 6).

Memang batas tanggal intenasional adalah hanya sebuah kesepakatan belaka (konvensi), namun tanpa adanya batas tanggal ini, definisi nama hari di dunia menjadi tidak tegas.

 

Hisab Modern

Sebelum hisab dalam pengertian astronomi modern, hisab sudah terbagi dua menjadi hisab urfi (aturan hitungan kalender yang dibuat dengan kesepakatan dunia Islam) dan hisab hakiki (yaitu dengan batasan astronomi dalam mendefisikan kapan hilal setelah wujudnya berpotensi untuk bisa dirukyat).

Di masa lalu, dan juga di kitab-kitab ilmu falak lama, hisab masih dilakukan dengan cara-cara sederhana, seperti trigonometri sferis serta hitung analitis. Pada astronomi modern, hisab dilakukan dengan dasar pengukuran yang terus menerus dari sejumlah observatorium di dunia, yang juga menerapkan teknik pengukuran laser ke bulan -Lunar Laser Ranging (LLR)- dengan memakai cermin-cermin khusus yang dipasang oleh missi-missi Appolo, yang kemudian dihitung bersama-sama menggunakan metode integrasi numerik dan deret-deret Fourier dalam superkomputer.  Jadi hisab modern ini dasarnya adalah semacam rukyat juga, walaupun kalau dalam astronomi, pengamatan tidak dilakukan di awal bulan, namun justru ketika bulan sudah tinggi.  Dalam astronomi, obyek yang dianjurkan diamati adalah yang tingginya minimal 15°, padahal hilal selalu lebih rendah dari itu.

Namun meski astronomi modern sudah mencapai taraf akurasi yang sangat tinggi, hisab hakiki harus dibuat dengan asumsi kriteria astronomis tertentu agar selalu cocok dengan rukyat (imkanur ru’yat).  Dan di sinilah timbul perbedaan kriteria.  Ada yang mendasarkan pergantian bulan bila ijtima’ telah terjadi sebelum maghrib, atau pada saat maghrib, irtifa’ (tinggi bulan) di atas 2° atau 5°, atau bulan sudah berumur minimal 8 jam.  Hal ini terjadi karena memang selama ini laporan kesaksian hilal belum dilengkapi dengan dokumentasi secara ilmiah mencakup azimut, irtifa’, waktu, posisi pengamat, kondisi cuaca, suhu, tekanan udara dsb.  Perbedaan kriteria ini berakibat perbedaan sehari dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal.  Bersama-sama dengan faktor astro-geografis, perbedaan ini bisa menjadi dua hari.  (Lihat Contoh-2 Lampiran).

 

Mencari Kesatuan

Bagaimanapun juga perbedaan baik akibat pemahaman fiqh yang berbeda maupun faktor teknis berkait dengan segudang masalah non teknis seperti persatuan ummat, toleransi mazhab, syiar Islam (kesatuan ummat dalam berhari-raya) dan kemajuan iptek kaum muslimin. Meski puasa sebagai ibadah mahdhah adalah masalah pribadi yang cukup dengan suatu “gholabatudh dhon” (dugaan yang kuat), namun ketika dihadapkan pada kesatuan ummat, maka masalah ini memerlukan solusi yang tidak lagi bersifat pribadi.

Bila di masa lalu kaum muslimin sebagai pemimpin dunia merupakan pelopor astronomi dan astronomi terpakai baik untuk kegiatan ibadah maupun jihad (navigasi armada), kini tidak bersatunya mereka dalam hal awal Ramadhan dan Syawal membuat mereka mengalami stigma (keterbelakangan)  yang akar masalahnya sebenarnya juga pada faktor teknis yang memustahilkan awal Ramadhan dan Syawal di hari yang sama di seluruh dunia – kecuali ada langkah non teknis, misalnya berupa maklumat pemerintah, yang otoritasnya baik secara “real politik” maupun “legal konstitusional” sah menurut hukum Islam dan diakui oleh kaum muslimin.  Otoritas inilah yang kemudian akan mengadopsi (tabbani) salah satu pendapat baik syar’i maupun teknis yang diusulkan oleh para pakar.  Seluruh kaum muslimin nantinya harus tunduk kepada keputusannya, karena qaidah syar’i mengatakan “keputusan amir mengangkat perselisihan”.

Fakta, saat ini kaum muslimin tercabik-cabik dalam puluhan negara, yang otoritasnya dalam mengurusi kaum muslimin semua dipertanyakan.  Memang ada usaha-usaha sekelompok negara untuk mencoba bekerjasama dalam suatu bidang termasuk menyatukan awal Ramadhan dan Syawal, seperti yang ditempuh oleh sebagian negara ASEAN atau bahkan dalam level OKI.  Namun selama masing-masing pemerintah itu lebih mengedepankan semangat kebangsaan serta kepentingan nasional, dan bukan urusan kaum muslimin –juga dalam hal-hal yang lain seperti ekonomi, politik, pertahanan dsb- maka mustahillah ada kesatuan awal Ramadhan dan Syawal di seluruh dunia.

Oleh karena itu menyatukan kaum muslimin sedunia sebagai ummatan waahidan dalam satu panji-panji kepemimpinan (al khilafah islamiayah) adalah agenda paling mendesak bagi kaum muslimin dan satu-satunya cara menyelesaikan segudang agenda kaum muslimin dalam era globalisasi ini.

 

Tulisan lain mengenai analisis penetapan awal dan akhir Ramadhan 1429 H dapat dilihat di :

http://cis-saksono.blogspot.com/2008/07/analisis-awal-ramadan-syawal-1429h.html

http://baiturrahmanvni.wordpress.com/2008/08/19/penetapan-awal-dan-akhir-ramadhan/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: