Puasa sebagai kafarat

Diantara keistimewaan puasa, yang tidak ada dalam amalan lain adalah; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika Haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, dan kafarat bagi yg tidak mampu untuk membeli kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena tidak sengaja, juga sebagai kafarat bagi yang membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram, dan sebagai kafarat dhihar, akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini;

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepala mu, hingga kurban itu sampai ketempatnya, maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepalanya, maka hendaklah memberi fidyah, yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh, menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yang melaksanakan ibadah haji dengan cara tamathu’ maka wajiblah menyembelih kurban yang sudah di dapat (membayar dam) maka barang siapa yang tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikianlah bagi orang yang bukan dari penduduk Masjidil Haram, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha keras siksanya. (Surat al-Baqoroh : 196)

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya :

“Dan jika ia dari golongan orang yang mengikat perjanjian antara kamu dengan mereka, maka hendaklah dibayar uang tebusan yang diserahkan kepada keluarganya, dan merdekakan budak mu’mtetapi barang siapa tak mampu, maka berpuasalah dua bulan berturut-turut, untuk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan bertaubat) karena Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat An-Nisaa’ :92)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

“Allah tidak menghukum kamu karena keterlanjuran sumpah- sumpahmu yang tidak di sengaja, tetapi ia menghukum kamu karena sumpah yang kamu sengaja (apabila kamu merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekan hamba sahaya. Barang siapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian, hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu, supaya kamu mensyukuri.” (Surat Al-Maidah ayat : 89)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, maka wajiblah atasnya denda, ialah mengganti dengan binatang ternak yang seperti binatang yang dibunuhnya yang ditetapkan oleh dua orang yang adil (penduduk Mekkah) atau kifaratnya memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu supaya merasakan akibat perbuatannya barang siapa yang mengulangi lagi mengerjakannya, maka Allah akan menyiksanya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.”(Surat Al-Maidah : 95)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

“Orang-orang yang mendhihar istrinya, kemudian ingin kembali kepada apa yang mereka katakan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur (bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu untuk mengerjakannya, dan Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yang kamu kerjakan maka barang siapa yang tidak memperoleh budak (karena tidak kuat mengadakannya, atau memang tidak ada), maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan maka barang siapa yang tiada berkuasa puasa, hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin (keringanan) yang demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkari (hukum-hukum Allah itu) adzab yang pedih.” (Surat Al-Mujadalah :3-4)

Demikian pula, puasa dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarganya dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu, berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Fitnah pria dari keluarga (istri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa, dan shodaqoh.”  (HR. Bukhori (2/7) Muslim (144))
(Sumber : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid)

Hukum Qurban

Kurban adalah kambing yang disembelih setelah melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, karena Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman (yang artinya) : “ Katakanlah : sesungguhnya shalatku, kurbanku (nusuk), hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam tidak ada sekutu bagi-Nya” [Al-An’am : 162]


Nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’
ala.[ Minhajul Muslim (355-356)]


Ulama berselisih pendapat tentang hukum kurban. Yang tampak paling rajih (tepat) dari dalil-dalil yang beragam adalah hukumnya wajib. Berikut ini akan aku sebutkan untukmu -wahai saudaraku muslim- beberapa hadits yang dijadikan sebagai dalil oleh mereka yang mewajibkan :

Baca lebih lanjut

Marhaban Yaa Ramadhan 1429 H

EBOOK – Panduan Ibadah di Bulan Ramadhan  (Format pdf, 39 hlm, 887 KB)   Download

Untuk versi MS-Word, download disini, silahkan dirubah cover-nya untuk dicetak dan diedarkan sesuai keperluan umat Islam setempat di manapun anda berada.

Panduan Ibadah di Bulan Ramadhan (Format PowerPoint, full animasi, full audio, 28 slides, 11.4 MB)   Download

Renungan untuk masjid kita (Format PowerPoint, 818 KB)   Download

10 Cara Menyambut Ramadhan dan 10 Tehnik Membangun Optimalisasi  Download

50 Tanya Jawab Tentang Puasa   Download

Kalender Puasa Sunnah   Download

Jadual Puasa Lengkap Kota-Kota Di Indonesia 1429 H   Download

Jadual Imsakiyah Dari MUI Untuk 36 Kota Di Indonesia    Download 

Video Shalat Tarawih di Masjidil Haram, Mekkah (cuplikan)

Video shalat Tarawih di Masjid Nabawi, Madinah (cuplikan)

Video rencana perluasan Masjidil Haram

Inside Ka’bah

Aspek Syar’i dan Iptek Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Oleh : Dr.Ing. Fahmi Amhar (Bakosurtanal, Cibinong, Bogor)

Abstrak

     Tulisan ini menyampaikan beberapa aspek syar’i dan fakta iptek yang berkaitan dengan ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang sering terjadi pada ummat Islam.  Fakta obyektif menunjukkan, bahwa secara teknis penentuan awal Ramadhan dan Syawal memang selalu memiliki potensi untuk berbeda, apapun landasan fiqh yang dipilih atau dipakai.  Dengan kata lain, perbedaan teknis ini hanya mungkin diatasi (disatukan) oleh suatu keputusan syar’i.

Pendahuluan : Rukyat vs Hisab

Perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal (hari raya Iedul Fitri) sering terjadi pada ummat Islam.  Yang di Indonesia biasa dijadikan “kambing hitam” adalah perbedaan fiqh dalam memahami sejumlah hadits, misalnya:

Janganlah berpuasa hingga terlihat bulan.  Dan janganlah berbuka (mengakhiri Ramadhan) hingga terlihat bulan pula.  Maka jika pandangan kalian terhalang, sempurnakan bilangan bulan sebanyak 30 hari.  (HR. Bukhari & Muslim). Baca lebih lanjut

Shadaqah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Pertanyaan  :

Assalaamu’alaikum,

Ustadz, saya ingin menanyakan beberapa masalah fikih. Semoga Ustadz bisa meluangkan waktu untuk menjawabnya. Pertama, bagaimana hukumnya berkorban yang diniatkan agar pahala berkorbannya sampai ke orang yang sudah meninggal? Kedua, bagaimana jika seseorang yang meninggal memiliki hutang tapi hutangnya tidak diketahui keluarganya? Ketiga, seseorang yang bepergian jauh tapi meniatkan puasa. Ketika sahur ia di Jakarta, dan kebetulan menjelang buka dia ada di Papua. Apakah buka puasanya mengikuti waktu Jakarta atau waktu Papua? Terima kasih.

Jawaban :

Baca lebih lanjut

Faroidh

Faroidh adalah ilmu yang mengatur pembagian harta warisan di dalam Islam. Dasarnya di antaranya adalah surat An Nisaa ayat 11 hingga 14 di mana ancaman bagi orang yang tidak memakai hukum Faroidh dalam membagi warisan diancam dengan siksa neraka.

Pembagian menurut hukum Faroidh dilakukan setelah harta warisan dikurangi dengan wasiat (jika ada) yang jumlahnya maksimal 1/3 dari total harta warisan yang akan dibagikan.

Keutamaan ilmu Faroidh digambarkan di hadits berikut ini :

Baca lebih lanjut

Wajibnya Shalat Jum’at dan Shalat Berjamaah

Shalat  Jum’at dan shalat berjamaah hukumnya wajib bagi laki-laki, dalilnya sebagai berikut :

1.      Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila sudah dipanggil untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah : 9). 

2.      Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena sengaja meremehkan, maka Allah mencap hati orang itu sebagai orang munafik.” (HR Ahmad).

3.      Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh aku bermaksud memerintahkan anak-anak muda mengumpulkan kayu bakar kemudian saya mendatangi orang-orang yang shalat dirumahnya (tidak berjamaah di masjid) tanpa ada alasan (yang menghalangi mereka) lalu saya bakar rumah-rumah mereka.’ (HR Muslim).

Baca lebih lanjut